Selasa, 02 Mei 2023

Mengantisipasi Ancaman Tersambar Petir, saat Berwisata Alam dan Mendaki Gunung


Hiking atau berjalan di alam bebas termasuk mendaki gunung didalamnya, merupakan wisata alam minat khusus yang memadukan antara olah raga dan rekreasi, sambil menikmati indahnya pemandangan alam.  Dalam kegiatan mendaki gunung diperlukan kekuatan fisik, didukung dengan perlengkapan keselamatan, dan pengetahuan yang memadai. Tak heran jika para pendaki gunung biasanya mereka yang tergabung dalam komunitas pencinta alam, seperti Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) maupun Sispala (Siswa Pencinta Alam). Namun saat ini dengan semakin baiknya pengelolaan pendakian gunung, maka pendaki gunung tidak harus berasal dari komunitas pencinta alam.

Berwisata alam sangat dipengaruhi oleh kondisi alam yang terjadi di tempat tersebut. Cuaca buruk merupakan salah satu faktor yang wajib diwaspadai oleh para pendaki gunung. Hujan yang diikuti dengan petir tak urung dapat menyebabkan kecelakaan fatal yang dapat menelan korban jiwa. Seperti kejadian di akhir bulan April (29/4/2023) yang lalu, dimana seorang pendaki meninggal dunia tersambar petir di gunung Seminung Kabupaten Lampung Barat. Tidak hanya menelan korban jiwa, 7 orang diantaranya mengalami luka bakar yang serius, 2 orang luka ringan dan 3 orang terserang hipotermia (BPBD Lampung Barat, 30/4/2023).

Kebanyakan kasus pendaki tersambar petir terjadi pada bulan Desember dan April, yakni menjelang pergantian tahun, dan liburan sekolah. Di kedua bulan tersebut intensitas dan jumlah pendaki cenderung mengalami peningkatan, padahal antara bulan Desember – April merupakan peralihan iklim memasuki musim kemarau, yang umumnya dikenal sebagai masa pancaroba.  Pada masa pancaroba ditandai dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah dan tidak bersahabat, seperti hujan yang disertai petir serta tiupan angin kencang.

Petir, kilat, atau halilintar adalah fenomena alam yang disebut pula sebagai listrik alam. Petir ditunjukan dari kemunculan kilatan cahaya putih dari langit disertai suara gemuruh yang menggelegar. Petir terjadi karena ada perbedaan muatan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya. 

Proses Terjadinya Petir (sumber: Sciencelearn.org.nz)

Awan yang bergerak terus menerus secara teratur menyebabkan terjadinya interaksi antara awan lainnya.  Proses ini menyebabkan perbedaan muatan dimana muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. 

Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke objek bermuatan postif di permukaan bumi, dan menghasilkan percikan listrik yang dinamakan petir atau kilat.  Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara yang disebut guntur.  

Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir.  Petir yang turun ke bumi mampu menumbangkan pohon besar, merusak struktur bangunan dan peralatan elektronik, meledakan menara komunikasi, dan dapat menewaskan mahluk hidup (sumber: Wikipedia).  

Petir memiliki kekuatan listrik hingga mencapai 300 kilovolt, dan dapat memanaskan udara hingga mencapai 50.000 derajat Fahrenheit (27.760 derajat Celcius). Kombinasi kekuatan listrik dan panas ini menyebabkan kerusakan serius pada tubuh manusia, seperti luka bakar, perforasi gendang telinga, kerusakan mata, menghentikan gerak jantung dan pernapasan, yang berujung pada kematian. 

Bagaimana cara petir menyambar manusia dan benda-benda dipermukaan bumi?  Dirangkum dari halaman Gramedia.com, secara umum ada beberapa proses atau cara orang tersambar petir, berikut penjelasannya:

1. Kilatan Samping

Kilatan samping terjadi ketika petir menyambar objek yang lebih tinggi di dekat korban. Bagian dari arus listrik melompat dari objek yang lebih tinggi ke arah korban. Dengan kata lain bahwa korban menjadi korsleting energi ketika terjadi pelepasan petir.   Kilatan samping ini biasanya terjadi saat korban berada dalam jarak satu atau dua kaki dari objek yang terkena cahaya. Sebagian besar peristiwa ini terjadi saat korban berlindung di bawah pohon.

2. Kilatan `Streamer’

Dalam urutan petir jenis streamer, bisa membuat seseorang dapat terluka oleh salah satu sambaran. Seseorang bisa terkena jenis sambaran petir  ini jika menjadi jembatan konduktif.  Untuk menghindarinya jangan berlindung di bawah pohon dan berbaring di atas tanah. Kita harus menghindari petir ini dengan masuk ke dalam ruangan. Namun, usahakan untuk tidak menyentuh kabel listrik, logam, air, atau peralatan listrik lainnya.

3. Sambaran Langsung

Sambaran petir langsung paling sering terjadi saat korban berada di area terbuka. Sambaran langsung bukanlah penyebab paling umum, tetapi paling berbahaya. Pada sebagian besar sambaran langsung, beberapa arus mengalir tepat di atas dan di sepanjang permukaan kulit. Selama waktu ini, arus listrik lainnya melewati sistem kardiovaskular dan atau saraf.

4. Arus Tanah

Saat petir menyambar pohon atau benda lain, sebagian besar energi dari petir mengalir keluar, masuk, dan menjalar sepanjang tanah. Seseorang yang berada di dekat kilat, kemungkinan akan menjadi korban arus tanah. Selain itu, petir jenis ini dapat mengalir ke permukaan lantai dengan material konduktif. Jenis petir ini juga mempengaruhi area yang lebih luas daripada jenis petir lainnya, sehingga, sambaran petir jenis ini juga paling banyak menimbulkan korban jiwa. Karenanya pada saat petir melanda, hindari berbaring di atas tanah, baik secara telentang atau tengkurap.

5. Konduksi

Petir dapat merambat melalui kabel panjang atau permukaan logam. Logam tidak menarik petir, tetapi bahannya menyediakan jalan bagi petir. Sebagian besar korban dari sambaran petir di dalam ruangan dan beberapa korban di luar ruangan disebabkan oleh konduksi listrik.

Lantas bagaimana, menghindari sambaran petir saat kita sedang mendaki gunung atau berada di alam terbuka?  Berikut cara mengantisipasi sambaran petir saat mendaki gunung, yang Jejak Erwinanta rangkum dari Napaktilas.net, silahkan disimak ya:

  1. Jika nampak tanda-tanda hujan badai disertai petir akan datang menerpa, segera hentikan perjalanan dan cari shelter terdekat untuk berlindung. Jangan berlindung di dalam tenda, karena jika tenda terkena petir, kamu juga akan terkena induksi petir.  Disarankan berlindung pada shelter yang memiliki atap, atau memakai shelter alam berupa gua. Biasanya, pada jalur pendakian yang sudah terkenal setiap pos pendakian telah memiliki shelter buatan yang permanen. Nah jika sobat hobi mendaki gunung, baiknya turut merawat shelter-shelter tersebut ya, jangan dijadikan tempat pembuangan sampah dan vandalisme, sehingga tidak nyaman lagi digunakan sebagai tempat berlindung sementara.
  2. Hilangkan sumber penghasil muatan positif, dengan mematikan semua perangkat elektronik yang masih menyala. Jangan menelepon dan menyalakan internet di gunung saat hujan melanda. Benda elektronik yang menyala dengan bantuan baterai atau listrik memiliki muatan positif, sehingga berpotensi besar untuk tersambar petir. Periksa semua smartphone, kamera, GPS, dan berbagai alat elektronik lainnya. Dengan menghilangkan sumber pemicu muatan positif, Sobat berpeluang besar terhindar dari sambaran petir.
  3. Lepaskan semua aksesoris berbahan logam yang menempel di tubuh dan simpan di dalam tas gunung. Pastikan semua aksesoris, kamu bungkus dengan material anti listrik seperti: plastik & kain. Logam adalah salah satu konduktor listrik yang sangat bagus, akibatnya, kamu bisa tersengat petir melalui aksesoris logam yang kamu pakai. Beberapa aksesoris logam yang sering dipakai oleh pendaki adalah gelang, kalung, cincin, anting dan tindik.
  4. Jangan berlindung di bawah pohon, karena dampak petir akan menimbulkan induksi listrik di sekitar pohon, dan dapat berimbas kepada kita. Kenapa pendaki tidak boleh berlindung di bawah pohon saat ada petir di gunung? Pertama: keberadaan manusia di area pohon akan meningkatkan muatan positif di sekitar pohon. Kedua: rawan tertimpa pohon tumbang jika terjadi badai atau tersambar petir. Ketiga: jika pohon tempat berlindung tersambar petir, Sobat berpotensi terkena ledakan energinya yang dapat menyebabkan cedera serius. 
  5. Jangan memaksakan diri mendaki saat kondisi cuaca buruk, khususnya saat di atas gunung sedang terjadi badai disertai petir. Pastikan selalu mencari informasi kondisi cuaca di gunung sebelum melakukan pendakian. Upaya yang dapat dilakukan: Pertama: lihat laporan cuaca yang diberitakan secara real time oleh BMKG. Kedua: tanyakan kepada pendaki yang baru saja turun gunung. Intinya, Sobat mendapatkan informasi terkini dari pendaki yang ada di lapangan. Ketiga: saat melakukan registrasi pendakian, tanyakan kondisi cuaca kepada petugas.
  6. Hindari berendam di danau, kolam, aliran sungai saat hujan badai disertai petirAir adalah salah satu media penghantar listrik yang bagus. Jika petir sampai menyambar air tempat kamu mandi atau berendam, kamu akan tersengat listrik tegangan tinggi. Akibatnya, kamu bisa mendadak pingsan dan tenggelam.
  7. Segera menjauh dari tanah lapang (area terbuka) atau sabana (padang rumput yang luas) saat kondisi cuaca sudah mulai mendungSaat mengetahui suhu udara mendadak berubah dan awan semakin gelap, segera menjauh dari sabana atau area terbuka, karena kita akan menjadi objek tertinggi di tempat tersebut, sehingga peluang tersambar petir semakin besar.
  8. Jangan mendekati menara tinggi/Tower/alat pendeteksi vulkanologi di gunung, karena lokasi tersebut memiliki media penghantar petir yang kuat.  Beberapa gunung telah memiliki Tower telekomunikasi dan gardu pemantau vulkanologi, yang kadang tidak dilengkapi dengan perangkat anti petir. 
  9. Jaga jarak antar anggota rombongan sekitar 3-5 meter.  Jika nasib sial ternyata menimpa salah satu pendaki, pendaki di depan atau di belakangnya masih selamat karena jarak mereka berjauhan, sehingga bisa memberikan pertolongan dan evakuasi. Cara ini bertujuan untuk mengurangi akumulasi muatan positif yang berkumpul pada satu tempat serta berjaga-jaga dari skenario terburuk.
  10. Posisikan tubuh serendah mungkin untuk menghindari sambaran petir dengan cara berjongkok. Berjongkok dengan tumit terangkat, mata kaki bersentuhan dan kedua tangan menutup telinga, dengan jarak antar personal sejauh 5 meter, merupakan teknik yang efektif untuk memperkecil peluang tersambar petir. 
Teknik Jongkok: sumber: https://www.hendriagustin.com/?p=955

Teknik jongkok cukup efektif untuk mengantisipasi sambaran petir. Teknik ini dilakukan dengan cara berjongkok (A), menekuk kepala dan tidak melebihi objek lain yang ada disekitar (B), tutup telinga dengan kedua tangan (C) agar tidak kaget saat mendengar suara petir, kedua tumit kaki terangkat / berjinjit (D), pastikan kedua mata kaki bertemu (E). Posisi ini untuk mengantisipasi, jika ada petir menyambar daerah sekitarmu, dan kamu terkena dampak induksi listrik. Listrik yang merambat dari tanah akan merambat melalui kaki. Karena mata kaki pendaki saling bertemu, maka listrik tidak naik ke atas tubuh tapi kembali ke kaki satunya dan ternetralisir kembali ke tanah. Jangan menyentuh benda logam apa pun saat mempraktikkan teknik ini (F). Pastikan semua logam di tubuh sudah kamu lepas. pastikan tetap menutup telinga sampai petir mereda. 

Kita memang tidak mengetahui kapan musibah menimpa kita, dan tentunya bukan pula sesuatu yang diharapkan terjadi manakala kita sedang menikmati wisata alam, karenanya ada baiknya kita selalu waspada dan tidak ceroboh.  

Bagi Sobat yang menyukai berwisata di alam bebas, seperti camping ataupun hiking, tentunya wajib mencari tahu informasi karakteristik alam termasuk kondisi cuaca tempat dimana destinasi wisata alam yang akan kita kunjungi.  Bagi Pihak Pengelola Wisata, untuk tidak segan-segan menginformasikan kepada para wisatawan mengenai kondisi cuaca dan fenomena alam lainnya yang berpeluang membahayakan, membangun shelter yang aman terhadap badai dan petir, menyiapkan titik dan jalur evakuasi, dan yang terpenting adalah menyiapkan jalur pendakian sesuai dengan SNI 8748:2019 tentang Pengelolaan Pendakian Gunung, yang memenuhi prinsip 4K (Keselamatan, Keamanan, Ketertiban, dan Kenyamanan).  

Baca Juga:  Wana Wisata dan Kebangkitan Ekonomi Hijau

Semoga bermanfaat, dan selamat “healing” di Lampung Barat.

--- Salam Lestari ---


Referensi:

  • Tips Menghindari Petir di Gunung, oleh Sony, posting 1 Januari 2023 (Link: https://napaktilas.net/tips-menghindari-petir-di-gunung/)
  • Penyebab Orang Tersambar Petir, Ini Penjelasannya! (link: https://www.gramedia.com/best-seller/penyebab-orang-tersambar-petir/)

2 komentar:

Terbaru

Selamat Datang 2024

"Hari ini tanggal 2 Januari 2024, pukul 07.32 WIB, hari pertama masuk kerja! Berdiri di barisan paling depan, acara apel pagi, di lapan...

Populer