Selasa, 07 Februari 2023

Pemborosan makanan (Food Wastage) sebagai tanda perilaku sosial yang tidak sehat, ancaman bagi kesehatan dan lingkungan hidup

sisa makanan

Pangan merupakan kebutuhan dasar yang menjadi hak asasi manusia, dan memiliki peran penting untuk membentuk generasi bangsa yang berkualitas. Karenanya negara bertanggung jawab dan berkewajiban menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan bagi warga negaranya mulai dari ketersediaan, keterjangkauan, kemerataan, dan kelayakan, serta keberlanjutannya. Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 mengatur tentang Pangan, dalam regulasi ini pangan didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia.  

Semakin majunya teknologi pangan, dan tingkat pendapatan, menempatkan pangan lebih kepada pilihan selera dan gaya hidup (lifestyle) daripada sekedar pemenuhan gizi dan kebugaran tubuh.  Ada dua tipe gaya hidup yang tengah menjangkiti generasi muda saat ini, yaitu “sedentary lifestyle” atau yang dikenal dengan gaya hidup “Mager” alias “Males Gerak” dan gaya hidup hedonisme.  Gaya hidup hedonisme berasal dari kata hedone yang artinya kesenangan, merupakan gaya hidup yang berfokus mencari kesenangan dan kepuasan tanpa batas, yang dicirikan dengan perilaku yang konsumtif (boros). Apa itu gaya hidup sedentari, sobat bisa simak di sini ya:  “Sedentari, gaya hidup yang mengancam hidup”

Ada dua perilaku konsumsi makanan yang menjadi ciri gaya hidup sedentari maupun hedonis, yaitu mengkonsumsi makanan dan minuman yang sebenarnya tubuh tidak sedang lapar, dan tidak menghabiskan makanan yang sebenarnya masih layak untuk dikonsumsi. Perilaku konsumsi pangan yang tidak seimbang ini, di satu sisi kian mendorong supply pangan semakin meningkat, tapi di sisi lain menyebabkan timbulnya pemborosan pangan atau dikenal sebagai “Food Wastage". Food Wastage tidak hanya mengancam kesehatan tubuh karena gizi yang berlebih, akan tetapi limbah makanan yang dihasilkan dapat memicu masalah serius bagi lingkungan hidup.  Pemborosan pangan (Food wastage), terbagi menjadi dua katagori, yaitu “Food Loss” dan “Food Waste”. 

Food loss adalah penurunan kuantitas maupun kualitas makanan mulai dari proses penyediaan hingga menjadi produk siap di konsumsi, dengan kata lain kehilangan makanan di tingkat rantai pasok (supply chain) sebelum menjadi produk akhir yang siap dikonsumsi.  Food loss biasanya terjadi pada tahap produksi, pasca panen, pemrosesan, hingga distribusi dan penyimpanan. Misalnya kerusakan bahan baku akibat hama dan bencana, rusak pada saat pengangkutan, berkurang pada saat pemilahan dan proses pengolahan, busuk pada saat penyimpanan.  Aksi membuang hasil panen tomat ke sungai untuk mempertahankan harga oleh beberapa pengumpul di Lampung Barat beberapa waktu yang lalu, termasuk dalam katagori Food Loss.  

Food Waste atau disebut sampah makanan adalah penurunan kuantitas maupun kualitas makanan yang timbul setelah rantai pasok atau pada tahapan produk akhir makanan yaitu pada tingkat retail, jasa  makanan (food service), dan tingkat konsumen, dimana makanan layak konsumsi, akan tetapi tidak habis dikonsumsi dan dibuang.  Contoh food waste adalah makanan sisa yang ada di piring (tidak dihabiskan), makanan basi, atau makanan kadaluarsa.  

Mengapa “Food Loss” dan “Food Waste” berdampak negatif?

Merujuk data SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 18,2 juta ton pertahun dengan timbulan sampah harian mencapai 50.025,2 ton per hari.  Dari timbulan sampah tersebut, sampah makanan menempati jumlah terbanyak dari keseluruhan komposisi jenis sampah, yaitu sebanyak 41,97% atau sekitar 7,6 juta ton. Baru kemudian sampah plastik menempati urutan kedua, dengan jumlah 3,4 juta ton atau sekitar 18,5%.  Rumah tangga merupakan penyumbang terbesar timbulan sampah yaitu sebesar 38,3% dan diikuti oleh Perniagaan sebesar 21,8%.   Data tersebut bisa saja melebihi daripada yang tertera, karena belum semua Kabupaten/Kota di Indonesia yang melaporkan data sampahnya ke dalam SIPSN.  Namunpun begitu, Rumah tangga dan tempat-tempat Perniagaan memiliki peran penting sebagai entry point penyelesaian permasalahan timbulan sampah yang berasal dari makanan.

Secara global, FAO mencatat bahwa sekitar 14% makanan yang diproduksi, hilang pada titik pertanian dan penjualan (Food Loss) dan sekitar 17% menjadi Food Waste, yaitu 10% di tingkat rumah tangga, 5% di food service, dan 2% di tingkat retail. Angka tersebut bukanlah angka yang absolut, karena tergantung dari seberapa besar efisiensi teknologi yang digunakan dan juga perilaku konsumsi dari tiap konsumen.  Data ini menunjukan bahwa food loss maupun food waste  akan selalu terjadi, tapi bukan berarti sesuatu yang tidak dapat dikendalikan untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan.  Berikut beberapa dampak buruk yang menjadi alasan penting mengapa sampah makanan wajib kita atasi secara bijaksana:

1. Indikasi menurunnya empati dan kepekaan sosial

Berdasarkan data The Economist Intelligence Unit (EIU) tahun 2021, Indonesia menempati urutan kedua negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia, diantara negara Saudi Arabia di urutan pertama, dan Amerika Serikat di urutan ke tiga.  Bappenas RI menghitung besarnya sampah makanan (food waste) yang dihasilkan di Indonesia mencapai 23-48 juta ton pertahun, dengan distribusi sampah makanan perkapita berkisar antara 115-185 kg/orang/tahun.  Angka ini lebih besar daripada kebutuhan pangan ideal yang dinyatakan dengan beras sebesar 133 kg/kapita/tahun.  Sementara data Global Hunger Index (GHI) tahun 2021, menunjukan tingkat kelaparan di Indonesia masih berada di level 18, tertinggi ketiga di Asia Tenggara setelah Timor Leste dan Laos, dimana BPS tahun 2021 mencatat bahwa masih terdapat 17 juta jiwa atau 6,1% penduduk Indonesia yang mengalami kelaparan dan sekitar 23,5 juta jiwa penduduk Indonesia mengalami kerawanan pangan.  

Ironis bukan? Satu sisi Indonesia dihadapkan dengan keadaan penduduknya yang kelaparan, dan krisis pangan, tapi di sisi lain, justru menghasilkan sampah makanan yang melimpah.  Fenomena food waste menyebabkan ketimpangan pangan  yang pada akhirnya dapat memicu makin melebarnya kesenjangan sosial, dan memperluas segregasi sosial khususnya pada kawasan urban atau perkotaan.  

2. Inefisiensi dan Pemborosan Biaya

Setiap makanan yang terbuang, didalamnya terdapat biaya produksi yang turut terbuang sia-sia, misalnya penggunaan air.  Air selain untuk konsumsi, digunakan pula dalam setiap tahap proses produksi makanan, mulai dari mengairi tanaman, hingga proses menghasilkan makanan. Ketika membuang makanan, semua air itu juga terbuang. Air yang terbuang dapat mencapai 170 triliun liter (atau 45 triliun galon) air per tahun. Membuang-buang makanan artinya membuang begitu banyak air.   

Hasil kajian Bappenas tahun 2021 menunjukkan bahwa kerugian akibat Food Waste dalam 20 tahun terakhir mencapai Rp 213 Triliun sampai Rp 551 Triliun per tahun. Jika dibandingkan dengan Nilai PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia tahun 2020 yang sekitar Rp 14.000 Triliun, maka nominal kerugian dari Food Waste di Indonesia mencapai 4% dari PDB Indonesia Tahun 2020.  Berdasarkan hasil kajian Litbang Kompas, pada tahun 2022, disimpulkan bahwa rata-rata setiap orang Indonesia melakukan pemborosan makanan sebesar Rp 2.141.614 per kapita / tahun. Secara total, kerugian yang ditimbulkan dapat mencapai angka Rp 330,71 triliun dalam setahun.  Bayangkan jika angka nominal ini digunakan untuk modal investasi atau dibangunkan infrastruktur pendukung perekonomian?

3. Meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Saat membusuk, sampah makanan menghasilkan gas metana, saat pengangkutan dan pendistribusian menghasilkan gas CO₂, dan lemari pendingin penyimpan makanan melepaskan CFC. Gas metan, CO2, CFC, disebut gas rumah kaca (GRK). Gas rumah kaca menyerap radiasi infra merah dan menyebabkan suhu atmosfer bumi meningkat. Peningkatan GRK di lapisan atmosfir menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.  Iklim dan cuaca berperan penting terhadap hasil produksi dari sektor pertanian.  Banjir dan cuaca buruk sebagai dampak dari perubahan iklim dapat menyebabkan terjadinya gagal panen dan penurunan produksi, yang berujung pada melemahnya ketersediaan dan ketahanan pangan.  

Proses produk akhir makanan menghasilkan ± 1.702,9 Megaton CO2-ekuivalen atau setara 7,3 % rata-rata emisi GRK per tahun.   jika kita berhenti membuang sisa makanan atau pemborosan terhadap makanan, berarti kita dapat mencegah 8 - 11% emisi gas rumah kaca terlepas ke lapisan atmosfir. 

4. Penyebaran penyakit bawaan pangan

Foodborne diseases atau penyakit bawaan pangan adalah penyakit menular atau keracunan yang disebabkan oleh infeksi mikroba patogen atau agen (pembawa alergi, residu pestisida, dan sebagainya) yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan yang dikonsumsi.   WHO memperkirakan bahwa 70% dari 1,5 miliar penyakit yang menyerang manusia berasal dari konsumsi makanan yang tercemar.  Penyakit bawaan pangan (foodborne disease) membunuh sekitar 2 juta orang per tahun, termasuk diantaranya anak-anak. 

Beberapa microba patogen yang menyebakan penyakit melalui bawaan pangan antara lain: Escherichia coli (E. coli), Salmonella, Norovirus, Listeria, Clostridium perfringens dan C. Botulinum, L. Monocytogenes, dan Campylobacter spp. Gejala yang dapat dikenali dari terjangkitnya penyakit bawaan pangan dan keracunan antara lain sakit perut, mual, muntah, diare, kram (kejang) perut, sakit kepala, tidak ada nafsu makan, demam, dehidrasi bahkan dapat mengakibatkan kanker.

5. Memicu Penyakit Hewan kepada Manusia (Zoonosis)

Zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya. Zoonosis disebabkan oleh mikroorganisme parasit yang dapat berupa bakteri, virus, jamur, serta parasit seperti protozoa dan cacing.

Tumpukan sampah makanan dapat menjadi media yang cocok bagi berkembang biaknya kuman penyakit dan juga hewan penyebar penyakit, seperti nyamuk, kecoak, lalat, dan tikus. Bahkan hewan peliharaan yang hidup liar seperti kucing dan anjing berpotensi pula menjadi perantara bagi kuman penyakit yang menginfeksi manusia.  Beberapa penyakit yang ditularkan melalui hewan dan serangga  antara lain kolera, disentri, tipus, diare, pes, Toxoplasma gondii, leptospirosis, demam berdarah, malaria, dan cacingan.

Sampah makanan yang dibuang dekat ekosistem hutan, akan memancing satwa-satwa liar yang lapar datang memasuki areal permukiman, dan tak jarang menimbulkan konflik dengan manusia.  Beberapa satwa liar yang sering memasuki kawasan permukiman untuk mencari makanan sisa manusia antara lain: Beruang madu (Helarctos malayanus), babi hutan (Sus scrofa), Beruk (Macaca nemestrina), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), Musang (Paradoxurus hermaphroditus), Biawak (Varanus salvator), Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma), burung jalak suren (Acridotheres javanicus). Ular dan biawak biasanya memangsa tikus yang banyak di tempat-tempat pembuangan sampah makanan.  

Apa saja upaya membatasi food loss dan food waste?

Nabi Muhammad S.A.W, bersabda:

"Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihkannya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk bernafas.” (HR. Ibu Majah Bab Makan no. 50).

Hadist di atas mengajarkan pentingnya menakar atau memperhitungkan pengolahan dan mengkonsumsi makanan agar food loss dan food waste dapat dikurangi, sehingga  tidak berdampak buruk terhadap tubuh maupun lingkungan.  Berikut beberapa Tips untuk mengurangi sampah makanan pada tingkat rumah tangga sebagaimana Jejak Erwinanta rangkum dari berbagai sumber: 

1. Merencanakan makanan dengan Bijak

Riwayat dalam Shahih al-Bukhari dari al-Miqdam bin Ma’diyakrib Radhiyallahu ’anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Takarlah makanan kalian, maka kalian akan diberkahi.” (HR. Bukhari)

Mulailah dengan merencanakan menu makanan dengan bijak. Misalnya dengan menyusun rencana menu selama sepekan.  Makanan yang sehat dan bergizi tidak harus mahal dan mewah.  Perencanaan makanan dapat membantu memperbaiki perilaku konsumsi keluarga kearah yang sehat, sesuai porsi, bergizi, dan tentunya menghemat biaya.  Ajaklah anggota keluarga anda untuk menyusun daftar menu makanan yang disukai secara bersama. Perencanaan makanan dapat menjadi edukasi yang efektif untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.

2. Membeli bahan pangan sesuai kebutuhan

Catatlah kebutuhan bahan baku pangan sesuai yang direncanakan. Pergi ke pasar atau supermarket tanpa dibekali catatan akan membuat Anda kebingungan, dan kemungkinan justru membeli lebih banyak bahan makanan diluar yang telah direncanakan. Pada akhirnya Anda justru akan menghamburkan banyak uang dan tentu saja anggota keluarga merasa kecewa karena menu makanan yang dibuat tidak sesuai yang telah disepakati.  

Bahan pangan sebaiknya dibeli langsung dari petani lokal atau komunitas petani organik yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Hal ini selain mengurangi Food Loss akibat rantai distribusi pangan yang panjang,  polusi dan pencemaran, sekaligus juga membantu bisnis usaha dan pendapatan petani lokal maupun komunitas petani organik tersebut. 

3. Jangan ragu mengkonsumi buah atau sayur yang sedikit cacat

Adakalanya kita menjumpai buah atau sayuran yang tersimpan dalam lemari pendingin, berpenampilan buruk, dan kisut.  Begitu juga sering dijumpai di pasar, bahan pangan berpenampilan luar yang jelek dan kadang oleh penjualnya dihargai sedikit lebih murah.  Buah dan sayuran yang berpenampilan seperti ini, cenderung tidak laku dan dibuang karena dianggap tidak layak dikonsumsi.  Buah atau sayuran yang penampilan luarnya jelek, karena terlalu matang, kesalahan dalam pengemasan, dan rusak akibat penumpukan, sebenarnya masih memiliki kandungan gizi dan rasa yang sama dengan buah dan sayuran yang penampilan mulus, sehingga masih layak untuk dikonsumsi.   

4. Manajemen penyimpanan makanan dengan baik

Tempat penyimpanan makanan yang umum digunakan adalah kulkas atau freezer.  Akan tetapi tidak semua bahan pangan dapat disimpan di dalam kulkas.  Terpenting disini adalah manajemen penyimpanan bahan pangan dilakukan dengan baik, seperti mengoptimalkan ruang penyimpanan,  memanfaatkan kontainer kedap udara, dan mengatur tempat penyimpanan sesuai dengan waktu pembelian bahan makanan, misalnya  produk lama diletakkan di bagian depan dan produk yang baru dibeli  ditaruh di sisi belakang ruang penyimpanan. 

Berbagai tips penyimpanan bahan pangan yang baik agar tidak cepat busuk antara lain jangan menyimpan buah dan sayuran dalam satu tempat, karena akan menyebabkan sayur lebih cepat membusuk, jangan mencuci daging, buah dan sayur sebelum dimasukan kedalam freezer karena akan terkontaminasi bakteri, serta mempercepat proses pembusukan. 

5. Periksa label makanan dan fisik kemasan 

UU 18 tahun 2012 telah mewajibkan kepada produsen pangan untuk menjamin keamanan pangan, yaitu dengan mencantumkan tanggal produksi, kedaluarsa, dan komposisi bahan pangan dalam kemasan. Sahabat sebaiknya memeriksa label-label tersebut sebelum membeli dan disesuaikan dengan kebutuhan makan keluarga.  Demi kesehatan keluarga, sebaiknya hindari membeli produk makanan yang banyak mengandung bahan pengawet buatan,  atau tambahan penyedap rasa, gula dan garam yang berlebihan. Perhatikan pula fisik kemasan, jika mengalami kerusakan atau kotor, baiknya dihindari untuk dibeli, karena dikuatirkan terkontaminasi oleh kotoran tikus atau kecoa yang membawa kuman penyakit berbahaya bagi manusia.

6. Kontrol asupan makanan 

Mengkonsumsi hidangan dalam porsi kecil membantu Anda dalam mengontrol asupan makanan. Hal ini mengurangi risiko makanan tak habis dan berakhir di tong sampah. Jika makan di restoran, jangan langsung lapar mata sehingga tak lagi memperhatikan porsi makanannya dan berujung dengan makanan yang tidak habis dikonsumsi. Porsi besar bisa dibagi-bagi untuk dikonsumsi bersama-sama.  Terpenting adalah mengajarkan kepada seluruh anggota keluarga agar membiasakan menghabiskan makanan dan tidak menghambur-hamburkan makanan. Untuk itu makanlah sesuai yang dibutuhkan tubuh, bukan menuruti keinginan dan nafsu yang berlebihan.

7. Manfaatkan kembali makanan sisa konsumsi

Pada saat kita mengolah bahan pangan menjadi makanan, selalu menghasilkan bahan sisa yang sebenarnya dapat diolah kembali dengan prinsip-prinsip 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Sisa  bahan pangan maupun makanan yang umumnya terjadi antara lain: sisa sayuran (bonggol akar, tangkai daun), sisa buah-buahan (biji dan kulit buah), dan sisa daging yang berupa tulang.

pemanfaatan kembali food loss
Jika Anda tak bisa menghabiskan bahan pangan atau makanan dalam satu waktu, sisanya bisa disimpan atau dibekukan untuk dikonsumsi atau digunakan sebagai bahan campuran masakan di kemudian hari, atau diolah menjadi bahan makanan lain yang baru. Tapi perlu diperhatikan bahwa, tidak semua sisa makanan dapat dimanfaatkan kembali (reuse) karena dapat berdampak buruk bagi tubuh, contohnya  sayur bayam, telur, nasi, kentang, dan sayuran berbahan santan. 

Memang yang lebih baik adalah untuk tidak menyisakan makanan, namunpun begitu jika tidak dapat dihindari, boleh dimanfaatkan sebagai pakan ternak, diolah menjadi kompos, atau jika yang hobi bercocok tanam bisa membudidayakan kembali sisa bahan baku sayuran dan buah, seperti misalnya kangkung atau cabe di pekarangan.  

8. Manfaatkan sisa makanan sebagai kompos

Limbah pangan bisa diolah menjadi pupuk organik cair (POC) maupun pupuk padat yang dikenal sebagai kompos. Kompos selain mengurangi jejak karbon, sekaligus memulihkan unsur hara tanah yang berguna bagi tanaman dan organisme tanah yang berfungsi menjaga keseimbangan siklus hara.  Berbagai metode pembuatan kompos dan biosida dengan memanfaatkan sisa dapur sudah banyak dipraktekan, mulai dari yang sederhana hingga menggunakan teknik dan ukuran yang telah ditentukan, seperti misalnya teknik kompos Takakura, POC, dan Eco Enzym.  Eco enzym, yakni cairan multiguna hasil ekstrak enzym melalui proses fermentasi limbah sampah organik seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula aren, gula merah, atau gula tebu), dan air dengan takaran atau perbandingan 3 bagian sampah dapur, 1 bagian gula, dan 10 bagian air.  

Baca Juga: |  POC Super, Berbahan Dasar Tempe Busuk  |  Jangan Sia-Siakan Sampahmu  |

kompos padat

Pupuk organik cair, teknik takakura, maupun eco enzym hanya berlaku untuk sampah makanan yang masih berupa bahan baku (food loss), untuk sampah makanan sisa konsumsi (food waste) tidak cocok sebagai bahan baku POC maupun Eco Enzym, karena sudah berubah struktur dan kandungan kimianya.  Metode efektif dan menguntungkan untuk pengolahan sampah makanan sisa konsumsi (food waste) adalah dengan metode kompos maggot (kasgot), metode kompos cacing (Vermicomposting), atau dengan teknik vertical mulch (biopori).

Maggot adalah larva dari serangga lalat hitam atau black soldier fly (BSF) yang bernama ilmiah Hermetia illucens. Dalam satu meter persegi kumpulan larva maggot dapat menghabiskan 7-15 kg sampah makanan. Salah satu kegunaaan dari maggot adalah sebagai campura pakan ikan dan ternak, karena kandungan proteinnya yang tinggi.  Vermicomposting adalah teknik pembuatan kompos dengan menggunakan cacing tanah. Ada dua jenis cacing tanah yang digunakan sebagai makro organisme pengurai, yaitu  Eisenia foetida dan Lumbricus rubellus. 

9. Berbagi makanan kepada sesama

Berbagi makanan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat di Indonesia. Berbagi makanan tidak hanya bermanfaat mengurangi resiko food waste, akan tetapi juga bernilai sedekah.  Ada lima manfaat ikutan dari berbagi makanan, yaitu: yang utama adalah menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial, memperkuat tali silaturahmi, mendukung ketahanan pangan, mengurangi stres, dan menumbuhkan rasa syukur serta saling menghormati. 

Sebenarnya masih banyak tips untuk mengatasi pemborosan pangan dan mengurangi sampah makanan, akan tetapi tidak akan berhasil apabila tidak diikuti oleh komitmen yang kuat untuk memulai merubah kebiasaan konsumsi makan yang tidak sehat, dan berlebihan.

Sobat, tanggal 21 Februari 2023, diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Tema HPSN tahun 2023 adalah “Tuntas Kelola Sampah untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Tema ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi seluruh elemen dan lapisan masyarakat agar fokus pada kegiatan pengelolaan sampah dan berkontribusi nyata dalam mencapai target zero waste dan zero emisi, serta kesejahteraan.  Nah sebagai bentuk kepedulian, dan bukti nyata, mari kita gunakan momentum HPSN, untuk saatnya meneguhkan komitmen dan memulai aksi mengurangi sampah makanan mulai dari diri dan keluarga, agar terbangun lingkungan rumah tangga yang sehat, bersih, berakhlak, dan rendah Karbon. 

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al Araf ayat 31)


Salam Sehat,  Salam Lestari


Referensi:

  • Food Loss & Food Waste: Ketika Makanan yang Terbuang Menjadi Masalah Bagi Lingkungan (Sumber:  https://envihsa.fkm.ui.ac.id/2022/05/25/food-loss-food-waste-ketika-makanan-yang-terbuang-menjadi-masalah-bagi-lingkungan/)
  • Polemik Isu Pemborosan Pangan (FOOD LOSS dan FOOD WASTE) (Sumber: https://distanpangan.baliprov.go.id/polemik-isu-pemborosan-pangan-food-loss-dan-food-waste/)
  • Food Loss dan Food Waste dalam Supply Chain Makanan (https://ppm-manajemen.ac.id/food-loss-dan-food-waste-dalam-supply-chain-makanan/)
  • Hermanu, Bambang. 2022. Pengelolaan Limbah Makanan (Food Waste) Berwawasan Lingkungan Environmentally Friendly Food Waste Management. Jurnal Agrifoodtech, Vol. 1, No. 1. 
  • Sampah Makanan Indonesia Mencapai Rp 330 Triliun (Sumber: https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2022/05/18/sampah-makanan-capai-lebih-rp-330-triliun)
  • Kenali penyakit Bawaan Pangan, Cermat Konsumsi Makanan dan Olah Bahan Pangan dengan Tepat (Sumber: https://unkartur.ac.id/blog/2022/01/06/waspada-penyakit-bawaan-pangan/)

Kamis, 02 Februari 2023

Menolak Lupa: Mengenal Arti dan Makna Tugu Ara Liwa Lampung Barat

Setiap daerah pasti memiliki tugu atau monumen sebagai penanda tentang identitas atau karakteristik dari kawasan dimana tugu atau monumen tersebut berada.  Sebagai penanda, tugu atau monumen  berfungsi sebagai media komunikasi visual suatu peristiwa sejarah, ketokohan atau kepahlawanan, keunikan atau “branding”, tradisi dan adat istiadat (culture).  Sebuah tugu atau monumen tidak hanya dituntut dengan bentuknya yang artistik dan estetik, tapi juga mampu mendeskripsikan nilai-nilai filosofi maupun makna secara jelas, dan tidak multitafsir, agar fungsi dan tujuan pembangunannya dapat diterima publik secara baik dan positip.  Tugu atau monumen dapat menjadi landmark sekaligus “orientasi” dari pertumbuhan suatu kawasan, bahkan bisa menjadi wisata kota yang dikenal dengan nama “city tour”.     

Tugu Ara Liwa
Tugu Ara Liwa,  2018

Begitu pula halnya dengan Tugu Ara Liwa yang terletak di Kelurahan Pasar Liwa, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Tugu setinggi  ± 10 m ini berada di simpang tiga ruas jalan yang  menghubungkan jalan propinsi Liwa – Ranau OKU Selatan, dan jalan nasional yang menghubungkan Liwa – Krui dan Liwa – Bukit Kemuning.  Tugu Liwa seolah-olah menjadi perekat ke-3 arah tujuan ini, bahkan dijadikan semacam kompas jika pengendara kebingungan mencari arah menuju Muara Dua atau ke arah Bengkulu.  

Sebelum bentuknya yang sekarang, Tugu Liwa dikenal dengan nama Tugu Merdeka. Tugu Merdeka ini berbentuk kerucut setinggi ± 4 m, dan bagian atasnya terdapat ornamen berbentuk “siger” dan dibawahnya bertuliskan nama tempat tujuan. Tugu Merdeka selain penanda pusat Kota Liwa merangkap pula fungsinya sebagai rambu penunjuk arah.  

Tugu Merdeka @liwakruiheritage
Tugu Merdeka Liwa 1995,  sumber:  @liwakruiheritage_

Mungkin karena alasan ini, Bupati Lampung Barat I Wayan Dirpha (Periode 1997-2002) menggagas untuk dilakukannya perubahan terhadap bentuk desain dan makna dari Tugu Merdeka, agar lebih mencerminkan karakteristik alam dan budaya Lampung Barat yang unik dan khas.  Hanya saja kapan dimulainya pembangunan fisik Tugu Liwa, masih belum Jejak Erwinanta peroleh secara pasti.  Ada yang menyampaikan bahwa perencanaan teknisnya disusun pada tahun 2000 dimasa Bupati I Wayan Dirpha dan pembangunan fisiknya dimulai pada masa Bupati Erwin Nizar (Periode 2002-2007).  Jika sobat ada yang mengetahui sejarah pembangunan tugu ini, bantu di share di kolom komentar ya.

Kini Tugu Ara Liwa tidak hanya menjadi simbol dari eksistensi  masyarakat Adat Lampung Barat, akan tetapi menjadi ikon dan landmark kota Liwa.  Tidak hanya itu, Tugu Ara Liwa juga digunakan sebagai logo dan merk dagang berbagai produk khas Lampung Barat.  Ibarat sebuah buku, Tugu Ara adalah Sampul dan Mukadimahnya.  

Seorang sahabat pernah bertanya, “Apa makna tugu ini? Bentuknya unik, ikonik, dan tak lazim sebagai tugu pada umumnya, seperti parabola beruas tiga”.  Waktu itu saya jawab sekenanya saja “Mungkin karena ada di simpang tiga”, dan sahabat itupun hanya tersenyum mesem, mungkin dibenaknya berkata “Syukur cuman tiga, jika macam simpang lima Semarang, banyak kali ruasnya ini tugu...”.

Selaku warga Liwa, kadang jadi malu sendiri, karena hampir tiap hari antar jemput anak sekolah dan antar istri ke pasar, selalu melewati tugu ini, tapi belum mengetahui arti dan maknanya.  Nah berikut informasi yang berhasil Jejak Erwinanta himpun dari berbagai sumber terpercaya tentang arti dan makna Tugu Ara Liwa, silahkan disimak ya.


Tugu Ara Liwa dilihat dari atas, 2018

Tugu Liwa yang sekarang, merupakan representatif dari bentuk pohon Ara, kayu Aro, atau pohon Hagha. Pohon Ara dalam ilmu taksonomi tumbuhan dikelompokan kedalam famili Moraceae (suku ara-araan), ada dua genus dari famili ini yang berhubungan erat dengan kebudayaan atau dikenal dengan istilah etnobotani, yaitu genus Ficus (beringin) dan Artocarpus (nangka-nangkaan). Dalam sistem kepercayaan kuno di Nusantara, “pohon ara” yang berasal dari genus Ficus dianggap sebagai “tanaman suci”, yang dimaknai sebagai “pohon kehidupan” atau dalam bahasa sanskerta dinamakan “kalpataru”. Beberapa jenis pohon Ficus spp. yang diabadikan sebagai simbol religi maupun bermakna filsafah antara lain: Beringin (Ficus benjamina), Bodhi atau kalpataru (Ficus religiosa) dan Tin (Ficus carica).  Mungkin karena alasan dan pertimbangan sebagai simbol “Kehidupan” yang juga mengandung makna kelestarian, pengayom, dan kebermanfaatan, maka Pohon Ara inilah yang kemudian dipilih sebagai desain utama bentuk tugu. 

Pada bagian atas tugu yang mirip parabola terbalik dianalogikan sebagai “Tajuk” yang tersusun melingkar berjumlah 12 dengan anak tajuk berjumlah 12 pula. Jika dijumlahkan menjadi 24 yang menandakan sebagai hari jadi Lampung Barat yaitu tanggal 24.  Dibawah tajuk ada “tangkai daun/cabang” sebanyak 9 buah menandakan bulan ke 9 (September) sebagai bulan lahirnya Lampung Barat.  Tinggi tugu ± 9 m dengan dudukan alas setinggi ± 1 m yang menandakan tahun berdirinya Lampung Barat yakni pada tahun 1991. Jika digabungkan tajuk, tangkai daun, dan tinggi tugu menandakan hari jadi diresmikannya Kabupaten Lampung Barat pada tanggal 24 September 1991


Tugu Ara Liwa
Tugu Ara Liwa, 2018

Tangkai daun/cabang sebanyak 9 buah menandakan pula kesepakatan Sembilan Marga Lampung yang memberikan Tanah Ulayatnya sebagai Cagar Alam yang saat ini dikenal sebagai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).  TNBBS ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2004 sebagai warisan dunia hutan hujan tropis Sumatera. 

Dibawah tangkai daun terdapat 4 buah bulatan yang merupakan ikon “buah kopi”. Kopi robusta melambangkan hasil bumi utama dan sokoguru perekonomian Lampung Barat.  Angka 4 juga menggambarkan ekoregion dan geostrategis Lampung Barat yang meliputi Daerah Pesisir (sekarang menjadi Kabupaten Pesisir Barat), Dataran Rendah, Dataran Menengah, dan Dataran Tinggi. 

Terdapat 4 buah Danau yaitu Danau Ranau, dan 3 Danau di Suoh (danau Lebar, danau Asam, dan danau Minyak), 4 buah gunung tertinggi yaitu Gunung Pesagi, Gunung Seminung, Gunung Sekincau, dan Bukit Subhanallah, serta 4 buah sungai besar yang menjadi hulu dari sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu Way Warkuk (DAS Musi), Way Semaka (DAS Semaka), Way Umpu (DAS Mesuji), dan Way Besai (DAS Tulang Bawang). Empat Geostrategis yaitu: konservasi, agriculture (kopi), pariwisata, dan energi baru terbarukan.

Tugu Ara
Tajuk, Cabang, Buah, Tunas, Akar - Tugu Ara Liwa, 2015

Di bagian bawah dari ikon buah kopi, terdapat bentuk yang menyerupai “tunas” yang mirip ornamen paku sura, dan diselingi dengan bentuk ornamen yang menyerupai “akar nafas” dibagian sisi bawahnya.  Baik tunas maupun “akar nafas” masing-masing berjumlah 4 buah.  Tunas melambangkan Kebuwayan, sedangkan “akar nafas” melambangkan Kepaksian.  Empat Kebuwayan dan Kepaksian tersebut yaitu: Umpu Bejalan Di Way (Paksi Buay Bejalan Di Way),  Umpu Belunguh (Paksi Buay Belunguh), Buay Nyerupa (Paksi Buay Nyerupa), dan Umpu Pernong (Paksi Buay Pernong).  

Apa perbedaan Kebuwayan dengan Kepaksian ? Sejujurnya Jejak Erwinanta sendiri belum banyak mengetahuinya.  Adapun yang Jejak Erwinanta ketahui bahwa persekutuan Kepaksian ini membentuk Kerajaan Sekala Brak, yang menjadi cikal bakal suku bangsa Lampung.  Kerajaan Sekala Brak diperkirakan sudah ada sejak abad ke-3 masehi. 

Tugu Ara Liwa, memang bukan peninggalan arkeologis, tapi suatu karya seni modern yang berhasil memadukan sejarah, karakteristik alam, eksistensi dan nilai-nilai luhur budaya kedalam bentuk seni rupa 3 dimensi.  Tugu Ara Liwa mungkin akan mengalami perubahan, tereduksi atau tereliminasi oleh berbagai alasan kepentingan, namun makna dan falsafah yang ditampilkannya saat ini, penting untuk dipertahankan dan terus dikomunikasikan sebagai literasi khususnya kepada generasi muda Lampung Barat. 

Kesan dari Tugu Ara Liwa bagi Jejak Erwinanta bahwa “Lampung Barat eksis, karena keluhuran nilai-nilai sosial budaya masyarakatnya”, dan “Lampung Barat maju, karena keberagaman dalam persatuan yang menjadi kekuatannya”.  Semoga Tuhan Yang Maha Esa menjaga Kabupaten Lampung Barat tetap lestari, kondusif, makmur dan sejahtera ... aamiin.

Dan semoga apa yang disajikan ini semakin menambah kecintaan dan kebanggan untuk bumi Lampung Barat yang semakin baik.  jika ada beberapa informasi yang kurang pas dan kurang lengkap, bisa Sobat tambahkan dan sempurnakan di kolom komentar ya.

Salam Sehat ... Salam Lestari. 


Terimakasih untuk:

Rekan-rekan di WAG Silaturahmi Bidang Fisik Bappeda Lampung Barat, dan senior-senior di PKBI Lampung Barat, sukses dan sehat selalu untuk kalian.  

Referensi:

Kepaksian Sekala Brak (sumber: http://p2k.unimus.ac.id/id1/3058-2937/Kepaksian-Sekala-Brak_41700_kepaksian-sekala-brak-unimus.html)





Minggu, 29 Januari 2023

Anggrek Merpati (Dendrobium crumenatum), si Harum Mewangi yang Tak Pernah Ingkar Janji

Anggrek Merpati, koleksi JE
Anggrek Merpati (Dendrobium crumenatum) 
Anggrek merpati ini paling sering kita jumpai hidup secara liar di alam.  Tumbuh subur menempel secara efipit di batang-batang tanaman hidup ataupun di batang tanaman yang sudah mati. Anggrek ini hidup baik pada ketinggian tempat di atas 500 mdpl. 

Di areal komplek Pemda Lampung Barat, tanaman ini banyak dijumpai menempel pada tanaman mahanoni, gmelina, angsana, pinus, dan tanaman peneduh lainnya. Memang anggrek ini terlihat tidak begitu menarik, dengan bentuknya yang seperti semak kering, tapi jika berbunga barulah keindahan dan keharumannya bikin suasana menjadi semarak.  

Berdasarkan taksonominya anggrek merpati bernama latin Dendrobium crumenatum Sw, ini masuk kedalam Famili: Orchidaceae, Subfamili: Epidendroideae, Tribus: Dendrobieae dan Genus: Dendrobium.  Anggrek ini memiliki penyebaran habitat yang luas di Asia Tenggara mulai dari Thailand, Malaysia, Singapura,  Indonesia, hingga ke Filipina dan Papua.  

Dendrobium crumenatum, termasuk anggrek yang memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi dan toleran terhadap sinar matahari, suhu dan kelembaban. Tumbuh optimal pada ekosistem  hutan dataran rendah kering semi gugur seperti savana hingga pada ekosistem hutan dataran tinggi.

anggrek merpati, koleksi JE
D. crumenatum, Foto JE

Dikutip dari halaman situs kebunraya.id  Anggrek merpati termasuk dalam anggrek golongan simpodial dengan bentuk bulb membengkak pada bagian bawah dan pipih pada bagian atas.  Tipe simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga ke luar dari ujung batang dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh atau muncul di sisi-sisi batangnya.  Bentuk batang utama tersusun dari ruas tahunan dan setiap ruas batang dimulai dari daun sisik dan berakhir dengan pertumbuhan tangkai bunga. Batang bercabang banyak, agak kaku, dan sepertiga bagian tidak berdaun. Helaian daun memiliki tekstur berdaging lunak dan daun sangat pendek, berbentuk lonjong hingga lanset.  Terdapat dua tipe akar yaitu, akar lekat tumbuh ke arah permukaan kayu pohon dan akar udara tumbuh dari pangkal batang dengan jumlah yang banyak. 

Bunga tunggal (soliter), muncul di rangkaian cabang yang kering. Bunga dengan kelopak dan mahkota berwarna putih dengan bentuk lidah (labellum) bervariasi dan berwarna putih dengan sedikit kekuningan. Bunga beraroma harum seperti wangi melati atau sedap malam.  Interval berbunga setiap 1-2 bulan, dengan umur mekar hanya bertahan 1 hari. Kelopak bunga berbentuk segitiga sempit dan lancip mirip seperti seekor merpati yang sedang terbang mengepakkan kedua sayapnya. 

anggrek merpati
Bunga  D. crumenatum, foto JE
Buah berbentuk kapsul, dengan biji yang terdapat di dalamnya sangat kecil sehingga mudah terbawa oleh angin ataupun hewan yang hinggap.  Anggrek merpati termasuk anggrek yang rajin menghasilkan keiki, sehingga mudah dilakukan perbanyakan. Perbanyakan anggrek dapat dilakukan dengan cara pemisahan rumpun, atau keiki.  "... karena perawatannya yang mudah, rajin berbunga dan harum, rasa-rasanya ingin menanam merpati ini disetiap dahan pohon yang ada di halaman ... 🤣"

Daerah Lampung Barat yang banyak ditanami tumbuhan kopi, anggrek merpati terkadang dianggap masyarakat  sebagai gulma yang harus dihempaskan 😭.  Sebagai pecinta anggrek sungguh rasanya gak sampai hati melihat nasib anggrek yang tersia-sia begitu saja, dan tentunya anggapan ini harus diluruskan, karena anggrek merpati bukanlah tanaman parasit atau benalu.   

Bayangkan bila anggrek-anggrek merpati ini menempel di pohon-pohon peneduh di sepanjang trotoar dan berbunga serentak di kanan - kiri jalan dengan warnanya yang putih dan harum.  Mungkin akan tersajikan suatu pemandangan indah dan asri, penuh kesan mendalam, dan tentunya slogan "Liwa Kota Berbunga" sedikit terwakili dan memang begitulah seharusnya ...😁

Simak juga: |  Liparis latifolia  |  G. stapeliiflorum  |  G. speciosum  |

Aahhh itu cuma sedikit imajinasi penulis ketika dibuai keharuman merpati seraya memandang kelopaknya yang putih bersih... Dendrobium crumenatum  si merpati putih yang tak pernah ingkar janji memberikan keharuman mewangi walau hanya satu hari...  🥰.


Happy Gardening 



wie
Penulis yang lebih akrab disapa Wie' ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Orang nomor dua di Jejak Erwinanta ini sebelumnya adalah seorang karyawan swasta yang rela meninggalkan jabatannya untuk tinggal di Liwa menemani suami dan membesarkan anak-anaknya sambil menekuni hobinya merawat bunga anggrek. Silahkan follow instagramnya di @ pratiwy_y 
 


Kamis, 26 Januari 2023

Gulai Taboh, kuliner populer berbahan ikan khas daerah Lampung

Setiap daerah tentunya memiliki aneka ragam kuliner tradisional yang menjadi ciri khas dari kekayaan budaya masyarakat adat daerah tersebut, begitupula halnya dengan suku Lampung. Suku yang berada di ujung selatan pulau Sumatera ini, terbagi menjadi dua kelompok masyarakat adat, yaitu Masyarakat Adat Lampung Saibatin atau Peminggir dan Masyarakat Adat Lampung Pepadun atau Penyeimbang.  Selain terkenal akan kopi dan keripik pisangnya, Lampung juga memiliki beraneka kuliner mulai dari makanan sehari-hari hingga kuliner yang hanya ada pada saat lebaran atau pada acara-acara adat.  

Merangkum dari Idn.com, beberapa jenis kuliner khas Lampung yang populer dan wajib untuk dicicipi,  antara lain: Seruit, Gulai Balak, Gabing, Tempoyak, Pindang, Umbu, Pandap, Pisro, Geguduh/Gagodoh, Panggang (Ikan Asap), Segubal/segumpal, Lemang, Benjak Enjak, Bebai Maghing, Gabal Ughang,  Kue Maksuba,  Kue Lapis Legit, Kerupuk Kemplang, dan Gulai Taboh.      

gulai taboh ikan nila
Gulai Taboh  foto: Chiska Pitri
“Gulai Taboh” merupakan kuliner khas masyarakat adat Lampung Saibatin yang berbahan baku ikan  dan berkuah santan, “Taboh” artinya “santan”.  Nah bagaimana rasanya Gulai Taboh? Berikut Jejak Erwinanta berbagi resep kuliner Gulai Taboh Ikan Nila yang disadur dari postingan Chiska Pitri  pada situs cookpad.com, yuk kita praktekan pembuatannya. 

Bahan-bahan:

  • 1 atau 2 ekor ikan nila (di potong)
  • 5 siung bawang merah
  • 4 siung bawang putih
  • 1 ruas kunyit
  • 1/4 ruas jahe
  • 1/2 ruas lengkuas di geprek
  • 1 tangkai sereh di geprek
  • 4 buah kemiri
  • 2 lembar daun salam
  • 5 buah belimbing wuluh (diiris)
  • 1 buah jeruk nipis/lemon
  • 2 buah cabe merah
  • 1 bungkus santan instan (kara)
  • Air bersih Secukupnya
  • Garam, Penyedap rasa, dan gula secukupnya

Cara Membuat:

  1. Ikan Nila dibersihkan kemudian dipotong-potong, boleh 1 ekor ikan potong dua bagian atau tiga bagian tergantung ukuran ikan nilanya ya sob.  Potongan ikan Nila dicuci bersih kemudian beri perasan air jeruk nipis atau jeruk lemon.
  2. Haluskan bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, kemiri, dan cabe. Kemudian tumis sampai matang dan berbau harum.
  3. Setelah bau harum atau matang, masukan 1 gelas air dan 1 bungkus santan instan, aduk sebentar. 
  4. Kemudian masukan ikan nya, di bolak-balik ikannya tapi jgn sampai hancur, masukan sereh, lengkuas, irisan belimbing wuluh, dan daun salam, serta tambahkan penyedap rasa, garam, dan gula secukupnya. Aduk perlahan, supaya santannya tidak pecah. 
  5. Koreksi lagi rasanya.  Jika sudah matang dan cukup rasanya, angkat lalu siap dihidangkan.  Untuk menambah rasa hangat dan sedap dapat ditambahkan daun kemangi.

Nah gampang bukan, silahkan dicoba dan selamat menikmati ya Sob.  Tetap Sehat dan Salam Lestari.


Happy Kuliner 


Referensi:

24 Makanan Khas Lampung yang Paling Populer dan Unik (Sumber:  https://www.idntimes.com/food/dining-guide/untsi-khairi-1/makanan-khas-lampung-unik?page=all)

Gulai Taboh Ikan Nila Khas Lampung (sumber: https://cookpad.com/id/resep/15935050-gulai-taboh-ikan-nila-khas-lampung?ref=search&search_term=masakan%20khas%20lampung)


Kamis, 19 Januari 2023

POC Super, Berbahan Dasar Tempe Busuk

Siapa tidak kenal dengan jenis panganan khas Indonesia yang bernama Tempe?  Panganan legend yang dijuluki sebagai “magic food” oleh masyarakat Eropa ini memiliki cita rasanya yang bikin “ngangenin” dan segudang manfaat yang luar biasa untuk kesehatan dan daya tahan tubuh.  Tempe ternyata sudah populer di Eropa sejak tahun 1946.  Komersialisasi tempe di Amerika, Eropa, dan Jepang dimulai sejak tahun 1983, tapi standardisasi "tempe" baru disetujui pada tanggal 9 Juli 2011 melalui Sidang Codex Alimentarius Commission di Geneva.   Tahun 2012 Badan Standardisasi Nasional (BSN)  menerbitkan standar tempe, dengan nomor SNI 3144:2009-Tempe Kedelai.   Kita patut berbangga hati, memiliki makanan tradisional  berstandar internasional.  Sangat disayangkan bila sebagai orang Indonesia tidak mengenal tempe apalagi  tidak pernah tau nikmatnya makan tempe... 😀  

tempe
Tempe Kedelai
“Tempe” sudah ada sejak abad ke-16.  Sejarah tempe dituliskan dalam “Serat Centhini” yang berbahasa jawa kuno. Serat Centhini menceritakan perjalanan “Cebolang” dari Candi Prambanan menuju Pajang, dan dijamu makan  "brambang jae santen tumpi”  oleh Pangeran Bayat di dusun Tembayat di wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.  Kata “tumpi”  dalam bahasa Jawa Kuno artinya putih, dari kata ini kemudian nama "tempe" menjadi populer.  

Tempe segar memang rasanya lebih enak dan gurih, tapi adakalanya kita tidak sempat mengolah tempe menjadi berbagai menu makanan, dan akhirnya menjadi “tempe busuk” atau tempe semangit (dalam bahasa Jawa) dengan ciri-ciri berwarna putih kelabu hingga kehitaman. Sebenarnya tempe busuk adalah tempe yang mengalami fermentasi lebih lanjut, dan masih layak untuk dikonsumsi. Zat gizi yang terkadung dalam tempe busuk antara lain: aglikon, daidzein, genistem, glisten, vitamin B12, lemak, protein,  dan kalsium yang bermanfaat bagi tubuh kita.  

Namun  ada juga yang tidak menyukai tempe busuk ini, karena aromanya seperti “bau pesing”.  Nah bagi sobat yang gak suka tempe busuk, jangan dibuang ya, karena dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair (POC) yang sangat bermanfaat untuk tanaman kesayangan kita.

Cara Pembuatan

Cara membuat POC berbahan tempe busuk, sangatlah mudah.  Pertama yang perlu disiapkan tentu saja tempe busuk berukuran 5 x 10 cm.  Tempe busuk ini dapat dipotong kecil-kecil ukuran dadu, dilumatkan menggunakan blender atau ditumbuk dengan menggunakan ulekan/cobek.  Siapkan juga air cucian beras (air leri) sebanyak 1,5 liter, air kelapa sebanyak 500 ml, dan air hujan atau air sumur sebanyak 1 liter. Terakhir gula pasir sebanyak 5 sendok makan.

POC Tempe
POC berbahan Tempe, JE 2022

Selanjutnya siapkan jerigen ukuran 3 - 5 liter.  Air cucian beras (air leri),  air kelapa dan air hujan / air sumur, serta gula pasir masukan ke jerigen, kemudian diaduk atau dikocok agar gula melarut. 

Terakhir baru masukan tempe busuk yang sudah dilumatkan atau dipotong-potong tersebut ke dalam jerigen. Tutup jerigen dengan menggunakan penutupnya tapi jangan ditutup secara rapat ya, biarkan ditutup kendor saja.  

Biasanya hingga hari ke-5, produksi gas metan dari hasil proses fermentasi  masih tinggi, dan dapat menyebabkan jerigen meledak akibat tekanan yang ditimbulkan. Dengan dikendorkannya tutup jerigen memberikan celah bagi gas metan dapat keluar dari sela-sela tutup jerigen.  Biarkan kondisi tutup jerigen seperti ini, sampai POC berumur 7 hari, baru kemudian tutup jerigen dikencangkan. Selanjutnya, letakan jerigen pada tempat yang kering, teduh, dan jangan terkena sinar matahari langsung.  Diamkan selama ± 14 hari (2 minggu). 


Simak juga : | Pupuk PSB: Murah, Mudah, Mujarab |

Minggu pertama, sebaiknya dilakukan pemeriksaan.  POC dengan proses fermentasi yang baik,  ditandai dengan permukaannya yang diselimuti oleh lapisan seperti busa atau serabut-serabut halus berwarna putih kekuningan, dan beraroma asam segar seperti bau yakult atau tape.  Jika POC berbau tidak sedap, tambahkan saja gula pasir sebanyak 3-5 sendok makan.  

Hari ke-14 dilakukan pemeriksaan kembali untuk melihat apakah POC yang kita buat berhasil dengan sukses atau mengalami kegagalan.  Tanda POC siap digunakan, dicirikan dengan larutan yang berwarna keruh kekuningan hingga berwarna coklat.  Di permukaan larutan terdapat bercak-bercak berwarna putih kekuningan, dan aroma berbau tape.  Jika larutan berwarna hitam, dan berbau busuk amonia atau berbau seperti got (siring) tandanya POC gagal dan baiknya larutan dibuang dan wadah dibersihkan.

Cara Penggunaan

POC tempe
POC berbahan Tempe, JE 2022

Cara penggunaan POC berbahan Tempe Busuk adalah dengan melarutkan 1 tutup botol jerigen atau ± 5 sendok makan larutan POC kedalam 1 liter air sumur atau air hujan, kemudian disemprotkan pada seluruh bagian tanaman, terutama pada bagian bawah daun yang banyak terdapat stomata.  Penyemprotan dilakukan pada pukul 7 pagi atau pukul 4 sore, karena pada jam-jam tersebut, stomata terbuka secara maksimal.  

Selain disemprotkan pemberian POC ke tanaman, dapat dilakukan dengan pengocoran atau penyiraman pada media sekitar tanaman.  Jika dikocorkan, maka konsentrasi larutan POC ditambah menjadi 2 tutup botol jerigen untuk 1 liter air.  Pemberian POC baik disemprotkan maupun disiram / dikocor, sebaiknya dilakukan sebanyak 2 kali dalam sebulan. 

Setiap POC pasti menghasilkan ampas yang tidak turut hancur, begitu halnya dengan POC berbahan tempe busuk.  Ada dua pemanfaatan residu / ampas, yaitu dimanfaatkan kembali menjadi POC dengan menambahkan air leri, air kelapa, air hujan dan gula pasir, layaknya seperti awal pembuatan POC. Pemanfaatan lainnya dengan menjadikan ampas POC sebagai biang atau starter guna mempercepat proses pembuatan pupuk kompos padat.

Manfaat POC tempe busuk bagi tanaman antara lain: merangsang pertumbuhan akar dan tunas, menjaga bunga dan buah tidak cepat rontok, memperkuat batang dan daya tahan tanaman dari serangan penyakit yang disebabkan jamur, menjaga kelembaban tanah, serta memfiksasi nitrogen di udara agar dapat terserap akar dan daun. 

Nah, ternyata tempe tidak hanya menguntungkan bagi manusia, akan tetapi juga bagi tanaman, dan pembuatan pupuk cairnya pun cukup mudah, bukan? Silahkan dipraktekan ya Sob. Salam Sehat, Salam Lestari.

Happy Gardening


Referensi:

BSN, 2012. Tempe: Persembahan Indonesia untuk Dunia. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.


Terbaru

Selamat Datang 2024

"Hari ini tanggal 2 Januari 2024, pukul 07.32 WIB, hari pertama masuk kerja! Berdiri di barisan paling depan, acara apel pagi, di lapan...

Populer