Selasa, 07 Februari 2023

Pemborosan makanan (Food Wastage) sebagai tanda perilaku sosial yang tidak sehat, ancaman bagi kesehatan dan lingkungan hidup

sisa makanan

Pangan merupakan kebutuhan dasar yang menjadi hak asasi manusia, dan memiliki peran penting untuk membentuk generasi bangsa yang berkualitas. Karenanya negara bertanggung jawab dan berkewajiban menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan bagi warga negaranya mulai dari ketersediaan, keterjangkauan, kemerataan, dan kelayakan, serta keberlanjutannya. Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 mengatur tentang Pangan, dalam regulasi ini pangan didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia.  

Semakin majunya teknologi pangan, dan tingkat pendapatan, menempatkan pangan lebih kepada pilihan selera dan gaya hidup (lifestyle) daripada sekedar pemenuhan gizi dan kebugaran tubuh.  Ada dua tipe gaya hidup yang tengah menjangkiti generasi muda saat ini, yaitu “sedentary lifestyle” atau yang dikenal dengan gaya hidup “Mager” alias “Males Gerak” dan gaya hidup hedonisme.  Gaya hidup hedonisme berasal dari kata hedone yang artinya kesenangan, merupakan gaya hidup yang berfokus mencari kesenangan dan kepuasan tanpa batas, yang dicirikan dengan perilaku yang konsumtif (boros). Apa itu gaya hidup sedentari, sobat bisa simak di sini ya:  “Sedentari, gaya hidup yang mengancam hidup”

Ada dua perilaku konsumsi makanan yang menjadi ciri gaya hidup sedentari maupun hedonis, yaitu mengkonsumsi makanan dan minuman yang sebenarnya tubuh tidak sedang lapar, dan tidak menghabiskan makanan yang sebenarnya masih layak untuk dikonsumsi. Perilaku konsumsi pangan yang tidak seimbang ini, di satu sisi kian mendorong supply pangan semakin meningkat, tapi di sisi lain menyebabkan timbulnya pemborosan pangan atau dikenal sebagai “Food Wastage". Food Wastage tidak hanya mengancam kesehatan tubuh karena gizi yang berlebih, akan tetapi limbah makanan yang dihasilkan dapat memicu masalah serius bagi lingkungan hidup.  Pemborosan pangan (Food wastage), terbagi menjadi dua katagori, yaitu “Food Loss” dan “Food Waste”. 

Food loss adalah penurunan kuantitas maupun kualitas makanan mulai dari proses penyediaan hingga menjadi produk siap di konsumsi, dengan kata lain kehilangan makanan di tingkat rantai pasok (supply chain) sebelum menjadi produk akhir yang siap dikonsumsi.  Food loss biasanya terjadi pada tahap produksi, pasca panen, pemrosesan, hingga distribusi dan penyimpanan. Misalnya kerusakan bahan baku akibat hama dan bencana, rusak pada saat pengangkutan, berkurang pada saat pemilahan dan proses pengolahan, busuk pada saat penyimpanan.  Aksi membuang hasil panen tomat ke sungai untuk mempertahankan harga oleh beberapa pengumpul di Lampung Barat beberapa waktu yang lalu, termasuk dalam katagori Food Loss.  

Food Waste atau disebut sampah makanan adalah penurunan kuantitas maupun kualitas makanan yang timbul setelah rantai pasok atau pada tahapan produk akhir makanan yaitu pada tingkat retail, jasa  makanan (food service), dan tingkat konsumen, dimana makanan layak konsumsi, akan tetapi tidak habis dikonsumsi dan dibuang.  Contoh food waste adalah makanan sisa yang ada di piring (tidak dihabiskan), makanan basi, atau makanan kadaluarsa.  

Mengapa “Food Loss” dan “Food Waste” berdampak negatif?

Merujuk data SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 18,2 juta ton pertahun dengan timbulan sampah harian mencapai 50.025,2 ton per hari.  Dari timbulan sampah tersebut, sampah makanan menempati jumlah terbanyak dari keseluruhan komposisi jenis sampah, yaitu sebanyak 41,97% atau sekitar 7,6 juta ton. Baru kemudian sampah plastik menempati urutan kedua, dengan jumlah 3,4 juta ton atau sekitar 18,5%.  Rumah tangga merupakan penyumbang terbesar timbulan sampah yaitu sebesar 38,3% dan diikuti oleh Perniagaan sebesar 21,8%.   Data tersebut bisa saja melebihi daripada yang tertera, karena belum semua Kabupaten/Kota di Indonesia yang melaporkan data sampahnya ke dalam SIPSN.  Namunpun begitu, Rumah tangga dan tempat-tempat Perniagaan memiliki peran penting sebagai entry point penyelesaian permasalahan timbulan sampah yang berasal dari makanan.

Secara global, FAO mencatat bahwa sekitar 14% makanan yang diproduksi, hilang pada titik pertanian dan penjualan (Food Loss) dan sekitar 17% menjadi Food Waste, yaitu 10% di tingkat rumah tangga, 5% di food service, dan 2% di tingkat retail. Angka tersebut bukanlah angka yang absolut, karena tergantung dari seberapa besar efisiensi teknologi yang digunakan dan juga perilaku konsumsi dari tiap konsumen.  Data ini menunjukan bahwa food loss maupun food waste  akan selalu terjadi, tapi bukan berarti sesuatu yang tidak dapat dikendalikan untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan.  Berikut beberapa dampak buruk yang menjadi alasan penting mengapa sampah makanan wajib kita atasi secara bijaksana:

1. Indikasi menurunnya empati dan kepekaan sosial

Berdasarkan data The Economist Intelligence Unit (EIU) tahun 2021, Indonesia menempati urutan kedua negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia, diantara negara Saudi Arabia di urutan pertama, dan Amerika Serikat di urutan ke tiga.  Bappenas RI menghitung besarnya sampah makanan (food waste) yang dihasilkan di Indonesia mencapai 23-48 juta ton pertahun, dengan distribusi sampah makanan perkapita berkisar antara 115-185 kg/orang/tahun.  Angka ini lebih besar daripada kebutuhan pangan ideal yang dinyatakan dengan beras sebesar 133 kg/kapita/tahun.  Sementara data Global Hunger Index (GHI) tahun 2021, menunjukan tingkat kelaparan di Indonesia masih berada di level 18, tertinggi ketiga di Asia Tenggara setelah Timor Leste dan Laos, dimana BPS tahun 2021 mencatat bahwa masih terdapat 17 juta jiwa atau 6,1% penduduk Indonesia yang mengalami kelaparan dan sekitar 23,5 juta jiwa penduduk Indonesia mengalami kerawanan pangan.  

Ironis bukan? Satu sisi Indonesia dihadapkan dengan keadaan penduduknya yang kelaparan, dan krisis pangan, tapi di sisi lain, justru menghasilkan sampah makanan yang melimpah.  Fenomena food waste menyebabkan ketimpangan pangan  yang pada akhirnya dapat memicu makin melebarnya kesenjangan sosial, dan memperluas segregasi sosial khususnya pada kawasan urban atau perkotaan.  

2. Inefisiensi dan Pemborosan Biaya

Setiap makanan yang terbuang, didalamnya terdapat biaya produksi yang turut terbuang sia-sia, misalnya penggunaan air.  Air selain untuk konsumsi, digunakan pula dalam setiap tahap proses produksi makanan, mulai dari mengairi tanaman, hingga proses menghasilkan makanan. Ketika membuang makanan, semua air itu juga terbuang. Air yang terbuang dapat mencapai 170 triliun liter (atau 45 triliun galon) air per tahun. Membuang-buang makanan artinya membuang begitu banyak air.   

Hasil kajian Bappenas tahun 2021 menunjukkan bahwa kerugian akibat Food Waste dalam 20 tahun terakhir mencapai Rp 213 Triliun sampai Rp 551 Triliun per tahun. Jika dibandingkan dengan Nilai PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia tahun 2020 yang sekitar Rp 14.000 Triliun, maka nominal kerugian dari Food Waste di Indonesia mencapai 4% dari PDB Indonesia Tahun 2020.  Berdasarkan hasil kajian Litbang Kompas, pada tahun 2022, disimpulkan bahwa rata-rata setiap orang Indonesia melakukan pemborosan makanan sebesar Rp 2.141.614 per kapita / tahun. Secara total, kerugian yang ditimbulkan dapat mencapai angka Rp 330,71 triliun dalam setahun.  Bayangkan jika angka nominal ini digunakan untuk modal investasi atau dibangunkan infrastruktur pendukung perekonomian?

3. Meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Saat membusuk, sampah makanan menghasilkan gas metana, saat pengangkutan dan pendistribusian menghasilkan gas CO₂, dan lemari pendingin penyimpan makanan melepaskan CFC. Gas metan, CO2, CFC, disebut gas rumah kaca (GRK). Gas rumah kaca menyerap radiasi infra merah dan menyebabkan suhu atmosfer bumi meningkat. Peningkatan GRK di lapisan atmosfir menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.  Iklim dan cuaca berperan penting terhadap hasil produksi dari sektor pertanian.  Banjir dan cuaca buruk sebagai dampak dari perubahan iklim dapat menyebabkan terjadinya gagal panen dan penurunan produksi, yang berujung pada melemahnya ketersediaan dan ketahanan pangan.  

Proses produk akhir makanan menghasilkan ± 1.702,9 Megaton CO2-ekuivalen atau setara 7,3 % rata-rata emisi GRK per tahun.   jika kita berhenti membuang sisa makanan atau pemborosan terhadap makanan, berarti kita dapat mencegah 8 - 11% emisi gas rumah kaca terlepas ke lapisan atmosfir. 

4. Penyebaran penyakit bawaan pangan

Foodborne diseases atau penyakit bawaan pangan adalah penyakit menular atau keracunan yang disebabkan oleh infeksi mikroba patogen atau agen (pembawa alergi, residu pestisida, dan sebagainya) yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan yang dikonsumsi.   WHO memperkirakan bahwa 70% dari 1,5 miliar penyakit yang menyerang manusia berasal dari konsumsi makanan yang tercemar.  Penyakit bawaan pangan (foodborne disease) membunuh sekitar 2 juta orang per tahun, termasuk diantaranya anak-anak. 

Beberapa microba patogen yang menyebakan penyakit melalui bawaan pangan antara lain: Escherichia coli (E. coli), Salmonella, Norovirus, Listeria, Clostridium perfringens dan C. Botulinum, L. Monocytogenes, dan Campylobacter spp. Gejala yang dapat dikenali dari terjangkitnya penyakit bawaan pangan dan keracunan antara lain sakit perut, mual, muntah, diare, kram (kejang) perut, sakit kepala, tidak ada nafsu makan, demam, dehidrasi bahkan dapat mengakibatkan kanker.

5. Memicu Penyakit Hewan kepada Manusia (Zoonosis)

Zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya. Zoonosis disebabkan oleh mikroorganisme parasit yang dapat berupa bakteri, virus, jamur, serta parasit seperti protozoa dan cacing.

Tumpukan sampah makanan dapat menjadi media yang cocok bagi berkembang biaknya kuman penyakit dan juga hewan penyebar penyakit, seperti nyamuk, kecoak, lalat, dan tikus. Bahkan hewan peliharaan yang hidup liar seperti kucing dan anjing berpotensi pula menjadi perantara bagi kuman penyakit yang menginfeksi manusia.  Beberapa penyakit yang ditularkan melalui hewan dan serangga  antara lain kolera, disentri, tipus, diare, pes, Toxoplasma gondii, leptospirosis, demam berdarah, malaria, dan cacingan.

Sampah makanan yang dibuang dekat ekosistem hutan, akan memancing satwa-satwa liar yang lapar datang memasuki areal permukiman, dan tak jarang menimbulkan konflik dengan manusia.  Beberapa satwa liar yang sering memasuki kawasan permukiman untuk mencari makanan sisa manusia antara lain: Beruang madu (Helarctos malayanus), babi hutan (Sus scrofa), Beruk (Macaca nemestrina), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), Musang (Paradoxurus hermaphroditus), Biawak (Varanus salvator), Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma), burung jalak suren (Acridotheres javanicus). Ular dan biawak biasanya memangsa tikus yang banyak di tempat-tempat pembuangan sampah makanan.  

Apa saja upaya membatasi food loss dan food waste?

Nabi Muhammad S.A.W, bersabda:

"Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihkannya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk bernafas.” (HR. Ibu Majah Bab Makan no. 50).

Hadist di atas mengajarkan pentingnya menakar atau memperhitungkan pengolahan dan mengkonsumsi makanan agar food loss dan food waste dapat dikurangi, sehingga  tidak berdampak buruk terhadap tubuh maupun lingkungan.  Berikut beberapa Tips untuk mengurangi sampah makanan pada tingkat rumah tangga sebagaimana Jejak Erwinanta rangkum dari berbagai sumber: 

1. Merencanakan makanan dengan Bijak

Riwayat dalam Shahih al-Bukhari dari al-Miqdam bin Ma’diyakrib Radhiyallahu ’anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Takarlah makanan kalian, maka kalian akan diberkahi.” (HR. Bukhari)

Mulailah dengan merencanakan menu makanan dengan bijak. Misalnya dengan menyusun rencana menu selama sepekan.  Makanan yang sehat dan bergizi tidak harus mahal dan mewah.  Perencanaan makanan dapat membantu memperbaiki perilaku konsumsi keluarga kearah yang sehat, sesuai porsi, bergizi, dan tentunya menghemat biaya.  Ajaklah anggota keluarga anda untuk menyusun daftar menu makanan yang disukai secara bersama. Perencanaan makanan dapat menjadi edukasi yang efektif untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.

2. Membeli bahan pangan sesuai kebutuhan

Catatlah kebutuhan bahan baku pangan sesuai yang direncanakan. Pergi ke pasar atau supermarket tanpa dibekali catatan akan membuat Anda kebingungan, dan kemungkinan justru membeli lebih banyak bahan makanan diluar yang telah direncanakan. Pada akhirnya Anda justru akan menghamburkan banyak uang dan tentu saja anggota keluarga merasa kecewa karena menu makanan yang dibuat tidak sesuai yang telah disepakati.  

Bahan pangan sebaiknya dibeli langsung dari petani lokal atau komunitas petani organik yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Hal ini selain mengurangi Food Loss akibat rantai distribusi pangan yang panjang,  polusi dan pencemaran, sekaligus juga membantu bisnis usaha dan pendapatan petani lokal maupun komunitas petani organik tersebut. 

3. Jangan ragu mengkonsumi buah atau sayur yang sedikit cacat

Adakalanya kita menjumpai buah atau sayuran yang tersimpan dalam lemari pendingin, berpenampilan buruk, dan kisut.  Begitu juga sering dijumpai di pasar, bahan pangan berpenampilan luar yang jelek dan kadang oleh penjualnya dihargai sedikit lebih murah.  Buah dan sayuran yang berpenampilan seperti ini, cenderung tidak laku dan dibuang karena dianggap tidak layak dikonsumsi.  Buah atau sayuran yang penampilan luarnya jelek, karena terlalu matang, kesalahan dalam pengemasan, dan rusak akibat penumpukan, sebenarnya masih memiliki kandungan gizi dan rasa yang sama dengan buah dan sayuran yang penampilan mulus, sehingga masih layak untuk dikonsumsi.   

4. Manajemen penyimpanan makanan dengan baik

Tempat penyimpanan makanan yang umum digunakan adalah kulkas atau freezer.  Akan tetapi tidak semua bahan pangan dapat disimpan di dalam kulkas.  Terpenting disini adalah manajemen penyimpanan bahan pangan dilakukan dengan baik, seperti mengoptimalkan ruang penyimpanan,  memanfaatkan kontainer kedap udara, dan mengatur tempat penyimpanan sesuai dengan waktu pembelian bahan makanan, misalnya  produk lama diletakkan di bagian depan dan produk yang baru dibeli  ditaruh di sisi belakang ruang penyimpanan. 

Berbagai tips penyimpanan bahan pangan yang baik agar tidak cepat busuk antara lain jangan menyimpan buah dan sayuran dalam satu tempat, karena akan menyebabkan sayur lebih cepat membusuk, jangan mencuci daging, buah dan sayur sebelum dimasukan kedalam freezer karena akan terkontaminasi bakteri, serta mempercepat proses pembusukan. 

5. Periksa label makanan dan fisik kemasan 

UU 18 tahun 2012 telah mewajibkan kepada produsen pangan untuk menjamin keamanan pangan, yaitu dengan mencantumkan tanggal produksi, kedaluarsa, dan komposisi bahan pangan dalam kemasan. Sahabat sebaiknya memeriksa label-label tersebut sebelum membeli dan disesuaikan dengan kebutuhan makan keluarga.  Demi kesehatan keluarga, sebaiknya hindari membeli produk makanan yang banyak mengandung bahan pengawet buatan,  atau tambahan penyedap rasa, gula dan garam yang berlebihan. Perhatikan pula fisik kemasan, jika mengalami kerusakan atau kotor, baiknya dihindari untuk dibeli, karena dikuatirkan terkontaminasi oleh kotoran tikus atau kecoa yang membawa kuman penyakit berbahaya bagi manusia.

6. Kontrol asupan makanan 

Mengkonsumsi hidangan dalam porsi kecil membantu Anda dalam mengontrol asupan makanan. Hal ini mengurangi risiko makanan tak habis dan berakhir di tong sampah. Jika makan di restoran, jangan langsung lapar mata sehingga tak lagi memperhatikan porsi makanannya dan berujung dengan makanan yang tidak habis dikonsumsi. Porsi besar bisa dibagi-bagi untuk dikonsumsi bersama-sama.  Terpenting adalah mengajarkan kepada seluruh anggota keluarga agar membiasakan menghabiskan makanan dan tidak menghambur-hamburkan makanan. Untuk itu makanlah sesuai yang dibutuhkan tubuh, bukan menuruti keinginan dan nafsu yang berlebihan.

7. Manfaatkan kembali makanan sisa konsumsi

Pada saat kita mengolah bahan pangan menjadi makanan, selalu menghasilkan bahan sisa yang sebenarnya dapat diolah kembali dengan prinsip-prinsip 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Sisa  bahan pangan maupun makanan yang umumnya terjadi antara lain: sisa sayuran (bonggol akar, tangkai daun), sisa buah-buahan (biji dan kulit buah), dan sisa daging yang berupa tulang.

pemanfaatan kembali food loss
Jika Anda tak bisa menghabiskan bahan pangan atau makanan dalam satu waktu, sisanya bisa disimpan atau dibekukan untuk dikonsumsi atau digunakan sebagai bahan campuran masakan di kemudian hari, atau diolah menjadi bahan makanan lain yang baru. Tapi perlu diperhatikan bahwa, tidak semua sisa makanan dapat dimanfaatkan kembali (reuse) karena dapat berdampak buruk bagi tubuh, contohnya  sayur bayam, telur, nasi, kentang, dan sayuran berbahan santan. 

Memang yang lebih baik adalah untuk tidak menyisakan makanan, namunpun begitu jika tidak dapat dihindari, boleh dimanfaatkan sebagai pakan ternak, diolah menjadi kompos, atau jika yang hobi bercocok tanam bisa membudidayakan kembali sisa bahan baku sayuran dan buah, seperti misalnya kangkung atau cabe di pekarangan.  

8. Manfaatkan sisa makanan sebagai kompos

Limbah pangan bisa diolah menjadi pupuk organik cair (POC) maupun pupuk padat yang dikenal sebagai kompos. Kompos selain mengurangi jejak karbon, sekaligus memulihkan unsur hara tanah yang berguna bagi tanaman dan organisme tanah yang berfungsi menjaga keseimbangan siklus hara.  Berbagai metode pembuatan kompos dan biosida dengan memanfaatkan sisa dapur sudah banyak dipraktekan, mulai dari yang sederhana hingga menggunakan teknik dan ukuran yang telah ditentukan, seperti misalnya teknik kompos Takakura, POC, dan Eco Enzym.  Eco enzym, yakni cairan multiguna hasil ekstrak enzym melalui proses fermentasi limbah sampah organik seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula aren, gula merah, atau gula tebu), dan air dengan takaran atau perbandingan 3 bagian sampah dapur, 1 bagian gula, dan 10 bagian air.  

Baca Juga: |  POC Super, Berbahan Dasar Tempe Busuk  |  Jangan Sia-Siakan Sampahmu  |

kompos padat

Pupuk organik cair, teknik takakura, maupun eco enzym hanya berlaku untuk sampah makanan yang masih berupa bahan baku (food loss), untuk sampah makanan sisa konsumsi (food waste) tidak cocok sebagai bahan baku POC maupun Eco Enzym, karena sudah berubah struktur dan kandungan kimianya.  Metode efektif dan menguntungkan untuk pengolahan sampah makanan sisa konsumsi (food waste) adalah dengan metode kompos maggot (kasgot), metode kompos cacing (Vermicomposting), atau dengan teknik vertical mulch (biopori).

Maggot adalah larva dari serangga lalat hitam atau black soldier fly (BSF) yang bernama ilmiah Hermetia illucens. Dalam satu meter persegi kumpulan larva maggot dapat menghabiskan 7-15 kg sampah makanan. Salah satu kegunaaan dari maggot adalah sebagai campura pakan ikan dan ternak, karena kandungan proteinnya yang tinggi.  Vermicomposting adalah teknik pembuatan kompos dengan menggunakan cacing tanah. Ada dua jenis cacing tanah yang digunakan sebagai makro organisme pengurai, yaitu  Eisenia foetida dan Lumbricus rubellus. 

9. Berbagi makanan kepada sesama

Berbagi makanan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat di Indonesia. Berbagi makanan tidak hanya bermanfaat mengurangi resiko food waste, akan tetapi juga bernilai sedekah.  Ada lima manfaat ikutan dari berbagi makanan, yaitu: yang utama adalah menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial, memperkuat tali silaturahmi, mendukung ketahanan pangan, mengurangi stres, dan menumbuhkan rasa syukur serta saling menghormati. 

Sebenarnya masih banyak tips untuk mengatasi pemborosan pangan dan mengurangi sampah makanan, akan tetapi tidak akan berhasil apabila tidak diikuti oleh komitmen yang kuat untuk memulai merubah kebiasaan konsumsi makan yang tidak sehat, dan berlebihan.

Sobat, tanggal 21 Februari 2023, diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Tema HPSN tahun 2023 adalah “Tuntas Kelola Sampah untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Tema ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi seluruh elemen dan lapisan masyarakat agar fokus pada kegiatan pengelolaan sampah dan berkontribusi nyata dalam mencapai target zero waste dan zero emisi, serta kesejahteraan.  Nah sebagai bentuk kepedulian, dan bukti nyata, mari kita gunakan momentum HPSN, untuk saatnya meneguhkan komitmen dan memulai aksi mengurangi sampah makanan mulai dari diri dan keluarga, agar terbangun lingkungan rumah tangga yang sehat, bersih, berakhlak, dan rendah Karbon. 

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al Araf ayat 31)


Salam Sehat,  Salam Lestari


Referensi:

  • Food Loss & Food Waste: Ketika Makanan yang Terbuang Menjadi Masalah Bagi Lingkungan (Sumber:  https://envihsa.fkm.ui.ac.id/2022/05/25/food-loss-food-waste-ketika-makanan-yang-terbuang-menjadi-masalah-bagi-lingkungan/)
  • Polemik Isu Pemborosan Pangan (FOOD LOSS dan FOOD WASTE) (Sumber: https://distanpangan.baliprov.go.id/polemik-isu-pemborosan-pangan-food-loss-dan-food-waste/)
  • Food Loss dan Food Waste dalam Supply Chain Makanan (https://ppm-manajemen.ac.id/food-loss-dan-food-waste-dalam-supply-chain-makanan/)
  • Hermanu, Bambang. 2022. Pengelolaan Limbah Makanan (Food Waste) Berwawasan Lingkungan Environmentally Friendly Food Waste Management. Jurnal Agrifoodtech, Vol. 1, No. 1. 
  • Sampah Makanan Indonesia Mencapai Rp 330 Triliun (Sumber: https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2022/05/18/sampah-makanan-capai-lebih-rp-330-triliun)
  • Kenali penyakit Bawaan Pangan, Cermat Konsumsi Makanan dan Olah Bahan Pangan dengan Tepat (Sumber: https://unkartur.ac.id/blog/2022/01/06/waspada-penyakit-bawaan-pangan/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terbaru

Secangkir Robusta dari Lampung Barat (Bagian III)

Tidak banyak postingan saya sebulan terakhir ini, hanya ada satu postingan, itupun bahan yang memang sudah lama saya siapkan sebelumnya. Akh...

Populer