Senin, 13 Maret 2023

Membina "Keluarga Peduli Lingkungan", mengapa begitu penting?

Keluarga dan Alam, Foto JE

Istilah “ekologi”, belakangan ini semakin populer, mengiringi berbagai alasan yang menjadi penyebab atas berbagai peristiwa bencana banjir dan longsor yang semakin marak terjadi.  Apa itu Ekologi? 

Kata ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Ernst Haeckel seorang ahli biologi Jerman pada tahun 1866.  Ekologi berasal dari bahasa yunani Oikos dan Logos. Oikos diartikan sebagai rumah atau tempat tinggal, sedangkan logos artinya ilmu atau pengetahuan. Berdasarkan dua serapan kata ini, ekologi dimaknai sebagai “ilmu yang mempelajari organisme di tempat tinggalnya” atau “ilmu yang mempelajari rumah tangga makhluk hidup”. Umumnya ekologi didefinisikan sebagai "ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme atau kelompok organisme dengan lingkungan dimana organisme itu berada”. Definisi Ekologi yang kemudian banyak dijadikan rujukan adalah apa yang dikemukakan oleh E.P Odum (1963) yakni “ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi dari alam” (The study of the structure and function of nature). 

Ekologi terbagi menjadi dua pendekatan, yaitu yaitu aut-ekologi dan sin-ekologiAut-ekologi - ekologi spesies merupakan studi yang mempelajari hubungan timbal balik makhluk hidup selaku individu dengan lingkungannya, misalnya studi tentang perilaku, metabolisme, kemampuan adaptasi, reproduksi, sejarah atau asal usul makhluk hidup (Genealogi), natalitas dan mortalitas, dan sebagainya.  Contoh judul kajian aut-ekologi antara lain: pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan anakan pinus merkusii, kajian konservasi lahan terhadap pertumbuhan kopi robusta, studi perilaku badak sumatera dan sebagainya. Umumnya kajian aut-ekologi bersifat eksperimental (percobaan), pengamatan, dan induktif.

Sin-ekologi  - ekologi komunitas adalah studi yang mempelajari hubungan timbal balik makhluk hidup sebagai satu kesatuan atau komunitas terhadap lingkungannya termasuk interaksi antar komunitas makhluk hidup lainnya dalam satu tempat hidup (habitat) atau ekosistem. Kajian sin-ekologi biasanya terkait dengan komposisi, relasi dan aksesibilitas, stratifikasi dan struktur, keberagaman, hubungan asosiasi dan fungsional, proses suksesi, spasial dan geografis, dinamika populasi, norma dan pengorganisasian (perserikatan), segregasi, fragmentasi, relung (niche). Contoh judul sin-ekologi adalah studi tentang keanekaragaman hayati hutan hujan tropis, kajian biomassa dan potensi karbon, dampak deforestasi terhadap perubahan iklim, kajian kawasan konservasi eksitu, pengembangan kawasan perdesaan berbasis agroforestry, dan sebagainya. Umumnya kajian sin-ekologi bersifat deskriptif, filosofis, dan deduktif.

Pada dasarnya ilmu ekologi sudah lebih dulu diaplikasikan oleh manusia, jauh sebelum ilmu tersebut dipopulerkan oleh para ahli. Contoh yang tertua adalah budidaya pertanian dimana sebagai organisme adalah tanaman pertanian dan lingkungannya terdiri dari tanah, unsur hara, air, dan organisme lainnya yang berhubungan dengan tanaman pertanian, misalnya lebah yang membantu penyerbukan, hewan ternak untuk membantu membajak dan penghasil pupuk kandang, dan peranan mikroorganisme tanah sebagai pengurai.

Ilmu ekologi - mengajarkan kepada kita bagaimana  siklus atau lingkaran energi, materi, informasi (rantai makanan) dan keseimbangan (homeostasis) berjalan dan terjadi  membentuk suatu sistem yang kemudian disebut sebagai ekosistem. Homeostasis adalah keseimbangan yang terjadi dalam suatu ekosistem, yaitu kemampuan ekosistem untuk menahan (daya tahan) berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan. Ekosistem menurut Soemarwoto (1983) yaitu suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.  Adapun komponen dalam ekosistem terdiri dari  a) Bahan anorganik seperti C, N, CO2, H2O, dan lainnya, b) Bahan organik seperti humus, karbohidrat, lemak, protein dan sebagainya, c) Kondisi Iklim seperti suhu, curah hujan, angin, d) Produsen atau organisme autotrof terutama tumbuhan daun hijau yang menghasilkan energi sendiri, e) Konsumen atau organisme heterotrof yaitu organisme yang tergantung hidupnya dengan mahluk hidup lainnya sebagai sumber energi atau makanannya, f) Dekomposer atau organisme pengurai yang berfungsi memecah atau mengurai materi organik menjadi unsur anorganik.

Nah coba sobat bandingkan antara ilmu ekologi dengan ilmu ekonomi apakah hubungannya saling melengkapi ataukah bertolak belakang?     

Ekologi memberikan gambaran  bahwa manusia berada diposisi puncak dari piramida ekologi, karenanya keberadaan manusia dalam suatu ekosistem, memiliki peranan sangat penting. Manusia dalam sistem ekologi memiliki dua fungsi utama yaitu sebagai bagian dari sistem alam dan juga sistem sosial, dimana unit terkecil dari komunitas manusia disebut sebagai keluarga atau rumah tangga.   

Baca Juga: Strategi Konservasi, efektif atasi Bencana Ekologis

Ada tiga hal yang menurut Jejak Erwinanta menyebabkan sesorang kurang peduli atau cenderung abai terhadap fungsi utamanya dalam sistem ekologi, sehingga aktivitasnya justru mengancam kelestarian lingkungan hidupnya, yaitu: 

1. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman

Selama ini ilmu lingkungan khususnya ilmu ekologi hanya diberikan pada rumpun bidang ilmu pengetahuan alam, padahal lingkungan dapat diajarkan juga melalui rumpun bidang ilmu-ilmu sosial. Terutama melalui pendekatan ilmu agama.  Semua agama di dunia mengajarkan kepada umatnya untuk peduli terhadap lingkungan hidupnya. Ada tiga batasan ilmu agama yang penting untuk membangkitkan kesadaran manusia agar peduli terhadap lingkungan hidupnya, yaitu Ketaqwaan (Kepatuhan), Moralitas (Budi Pekerti) dan Etika (Sikap atau Kesusilaan).         

2. Alasan ekonomi dan gaya hidup. 

Ekonomi dan gaya hidup masih menjadi indikator kemajuan pembangunan dan kesejahteraan suatu negara. Namun keduanya memberikan peluang menyebabkan semakin tingginya kerusakan lingkungan hidup.  Aktivitas ekonomi secara eksploitatif akan memacu lingkaran energi, materi dan informasi semakin cepat, yang berpotensi melebihi kemampuan dukung dari homeostatis suatu ekosistem. Tekanan yang melebihi daya tahan ekosistem akan menyebabkan terjadinya perubahan kearah sistem dengan keseimbangan yang baru, yang ditandai dengan perubahan fungsi, komposisi, keanekaragaman dan siklus, seperti  misalnya perubahan iklim.    

3. Lemahnya keterlibatan dan keberpihakan. 

Undang-Undang 32 Tahun 2009 telah menempatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM) yang wajib terpenuhi bagi setiap warga negara Indonesia. Undang-undang ini mengamanahkan perlunya empati semua pihak untuk terlibat dan melibatkan diri dalam menjamin lingkungan hidup yang baik sebagai HAM.  Gerakan aksi, advokasi, kampanye, pemberdayaan, kepeloporan menjadi penting untuk dilakukan sebagai upaya menumbuhkan dan memperkuat 3 pilar dari HAM, yaitu Perlindungan (Protect), Penghormatan (Respect), dan Pemulihan (Remedy).  Lemahnya peran serta masyarakat juga disebabkan karena tidak adanya kepemimpinan dan kepeloporan yang mampu mendorong dan memotivasi masyarakat untuk menumbuhkan solidaritas lingkungan hidup. 

Berpijak dari hal ini, sudah selayaknya Kita berlatih untuk berfikir dan bertindak dengan pendekatan yang sistemik.  Melalui pendekatan sistem memberikan kesadaran bahwa setiap perubahan akan memberikan reaksi kepada komponen lain yang terikat didalam sistem tersebut, sehingga mendorong manusia untuk bertindak lebih bijaksana dalam mengelola sumber daya alam agar tetap bermanfaat secara berkelanjutan.  Nah salah satu upaya untuk mendorong manusia bijak terhadap lingkungan hidupnya adalah dengan membentuk "Keluarga Peduli Lingkungan"

Apa yang dimaksud “Keluarga Peduli Lingkungan” ? 

Keluarga Peduli Lingkungan adalah unit terkecil dari masyarakat yang memiliki karakter keluarga ramah lingkungan. Tujuan Keluarga Peduli Lingkungan, pada dasarnya adalah meng-upgride salah satu dari fungsi keluarga yaitu fungsi pembinaan lingkungan, agar terbentuk kultur atau perilaku keluarga dengan etika lingkungan di setiap aktivitas kehidupan sehari-hari. "Keluarga Peduli Lingkungan" diharapkan menjadi garda terdepan guna mengatasi permasalahan lingkungan hidup sejak dini.

Menurut Jejak Erwinanta, Keluarga Peduli Lingkungan, sedikitnya memiliki 3 (tiga) karakter yaitu Pertama: Bersahaja yakni sederhana dan tidak berlebihan, Kedua: Aktivitas ramah lingkungan menjadi komitmen dan ketauladanan. Ketiga:  Etika lingkungan hidup menjadi prinsip dalam kehidupan sehari-hari.  

Mengutip dari situs biodiversitywarriors.kehati.or.id,  Sonny Keraf (2002) telah merumuskan sebanyak 9 (sembilan) prinsip etika lingkungan hidup yang menjadi pegangan dan tuntunan bagi manusia terhadap lingkungan hidupnya, yaitu: 

1. Prinsip sikap hormat terhadap alam (respect for nature)

Manusia mempunyai kewajiban menghargai hak semua makhluk hidup untuk berada, hidup, tumbuh, dan berkembang secara alamiah sesuai dengan tujuan penciptanya. Untuk itu manusia perlu merawat, menjaga, melindungi, dan melestarikan alam beserta seluruh isinya serta tidak diperbolehkan merusak alam tanpa alasan yang dapat dibenarkan secara moral. Manusia mempunyai kewajiban moral untuk menghargai alam dengan segala isinya karena manusia adalah bagian dari alam dan mempunyai nilai pada dirinya sendiri.

2. Prinsip tanggung jawab (moral responsibility for nature)

Prinsip tanggung jawab moral terhadap alam karena manusia adalah bagian integral dari alam. Setiap makhluk hidup diciptakan oleh Allah, guna kepentingan manusia maka sudah selayaknya manusia bertanggung jawab pula untuk menjaganya.  Tanggung jawab bersama tersebut juga terwujud dalam bentuk mengingatkan, melarang dan menghukum siapa saja yang merusak dan membahayakan eksistensi alam semesta, mengingat bahwa alam bernilai terhadap diri manusia.

3. Prinsip solidaritas kosmis (cosmic solidarity)

Prinsip solidaritas kosmis mendorong manusia hadir menyelamatkan semua kehidupan di dunia ini mengingat, alam dan semua kehidupan didalamnya mempunyai nilai yang sama dengan kehidupan manusia itu sendiri. Solidaritas kosmis mencegah manusia untuk tidak merusak dan mencemari alam dan seluruh kehidupan didalamnya. Solidaritas kosmis mendorong manusia untuk mengambil kebijakan yang pro alam, pro lingkungan hidup, dan menentang setiap tindakan yang merusak alam.

4. Prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam (caring for nature)

Semua makluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, dirawat dan tidak disakiti. Ini merupakan prinsip moral satu arah terhadap yang lain tanpa mengharapkan balasan dari alam yang  disayangi.

5. Prinsip tidak merugikan (no harm)

Prinsip ini merupakan prinsip tidak merugikan alam untuk hal-hal yang tidak perlu (sia-sia). Bentuk minimal berupa tidak perlu melakukan tindakan yang merugikan atau mengancam eksistensi makhluk hidup lain di alam semesta, melakukan tindakan  menjaga , merawat (care), melindungi dan melestarikan alam.

6. Prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam

Prinsip ini menekankan pada nilai, kualitas, cara hidup, dan bukan kekayaan, sarana, standard material. Prinsip ini lebih menekankan pada mutu kehidupan yang baik. Prinsip moral hidup sederhana harus dapat diterima oleh semua pihak sebagai prinsip pola hidup yang baru agar kita dapat berhasil menyelamatkan lingkungan hidup. Sejauh ini krisis ekologi disebabkan karena pandangan yang hanya melihat alam sebagai obyek eksploitasi dan pemuas kepentingan hidup manusia, dengan pola dan gaya hidup modern konsumtif, rakus dan tamak. Jika saja manusia memahami dirinya sebagai bagian integral dari alam, ia harus memanfaatkan alam itu dengan secukupnya, ada batas sekedar untuk hidup layak bagi manusia, maka prinsip hidup sederhana merupakan prinsip fundamental.

7. Prinsip keadilan

Prinsip keadilan lebih ditekankan pada bagaimana manusia harus berperilaku adil terhadap yang lain dalam keterkaitan dengan alam semesta juga tentang sistem social yang harus diatur agar berdampak positif bagi kelestarian lingkungan hidup. Prinsip keadilan terutama berbicara tentang peluang dan akses yang sama bagi semua anggota masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan pengelolaan sumbar daya alam, dan dalam ikut menikmati pemanfaatannya.

8. Prinsip demokrasi

Demokrasi justru memberi tempat seluas-luasnya bagi perbedaan, keanekaragaman, dan pluralitas. Oleh karena itu setiap orang yang peduli dengan lingkungan adalah orang yang demokratis, sebaliknya orang yang demokratis sangat mungkin bahwa dia seorang pemerhati lingkungan.

9. Prinsip integrasi moral

Prinsip ini terutama ditujukan untuk para pejabat publik yang memiliki kewenangan perizinan pemanfaatan lingkungan hidup.  Pejabat Publik yang tidak mempunyai integritas moral, sudah dipastikan ia akan menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan diri dan kelompoknya dengan mengorbankan dan menghancurkan lingkungan hidup melalui pemberian kebijakan perizinan dan izin teknis kepada perusahaan tanpa memperhatikan ketentuan yang berlaku dibidang lingkungan hidup, sehingga menyebabkan rusaknya lingkungan hidup.


Prinsip yang menjadi etika lingkungan hidup ini, tentunya harus dapat menjadi kebiasaan yang mulai diajarkan dan ditanamkan sejak dini.  Wadah yang tepat adalah dalam lingkungan keluarga, karenanya sembilan prinsip etika lingkungan ini, tidak hanya menjadi ciri dan karakter bahkan modul untuk mewujudkan “Keluarga Peduli Lingkungan”.

Apa saja keuntungan dari adanya Keluarga Peduli Lingkungan, sehingga begitu penting untuk dibangun dan dibina?

  1. Menampilkan keadaan lingkungan sekitar yang bersih, sehat, dan asri
  2. Menumbuhkan solidaritas sosial dan kerukunan antar tetangga
  3. Kemandirian dalam mengatasi permasalahan lingkungan
  4. Mendorong usaha eco enterpreneurship
  5. Memperkuat aspek pemberdayaan masyarakat
  6. Menjadi kontrol masyarakat terhadap kejahatan lingkungan hidup
  7. Tersedianya keluarga yang tangguh dan harmonis
  8. Peluang terjalinnya kemitraan 

Rasanya sudah cukup panjang lebar, penjelasan dalam postingan kali ini. Mulai dari teori ekologi hingga “Keluarga Peduli Lingkungan” harapannya bahwa memang ada korelasi antara teori dengan praktek.  Semoga tulisan ini dapat menginspirasi untuk meraih kehidupan berkeluarga yang makin baik dan lebih baik.   

Buat rekan-rekan yang bertugas di bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dimanapun berada Selamat Hari Bhakti Rimbawan, 16 Maret 2023, semoga Rimbawan menjadi Pelopor “Keluarga Peduli Lingkungan”, guna Hijaukan Bumi, Birukan Langit - Lingkungan Sehat, Keluarga Tangguh.   

-- Salam Lestari --

Referensi:

  • Malik, A. dkk. 2018. Pemahaman tentang Lingkungan Berkelanjutan. MODUL Vol 18 No 2. Fakultas Teknik. Universitas Diponegoro.
  • Prinsip Etika Lingkungan (Link: https://biodiversitywarriors.kehati.or.id/artikel/prinsip-etika-lingkungan/)


4 komentar:

  1. Mantab pak, Salam Lestari

    BalasHapus
  2. Memulai dari keluarga, berawal dari rumah. Kita tdk lg melihat : capung, burung layang2, serangga malam... Mereka sdh pergi.. Krn kita sdh merusaknya...

    BalasHapus
  3. Baca postingan ini, saya jadi berfikir, mungkin itu juga, cara Tuhan menghukum hambanya di dunia yang suka pamer dan sombong dengan kekayaan, tapi gak peduli dengan alam dan sosial nya. mari wujudkan lingkungan yang baik untuk hadirkan keluarga yang tangguh.

    BalasHapus
  4. min, lain waktu bahas sampah plastik dong...kita nih para ibu sering ketemu dgn tas plastik/kresek

    BalasHapus

Terbaru

Selamat Datang 2024

"Hari ini tanggal 2 Januari 2024, pukul 07.32 WIB, hari pertama masuk kerja! Berdiri di barisan paling depan, acara apel pagi, di lapan...

Populer